Awalnya Gratis setelah Kecanduan Baru Bayar | Berita Terbaru Hari ini

Close

Awalnya Gratis setelah Kecanduan Baru Bayar

Awalnya Gratis setelah Kecanduan Baru Bayar Kapolsek Karangploso, AKP H Suprayitno menunjukkan barang bukti pil koplo

MALANG-Terbongkarnya peredaran pil koplo di lingkungan siswa sekolah dasar (SD) di Karangploso, Kabupaten Malang menurut Kapolsek Karangploso, AKP H Suprayitno, berawal dari keresahan para guru.

Menurutnya belakangan diketahui semakin sering anak-anak SD yang tidak masuk sekolah. Lebih mengejutkan lagi setelah sejumlah guru melakukan razia tas sekolah anak didiknya. Diketahui ada muridnya yang membawa pil itu.

Kontan saja dari peristiwa itu segera dilaporkan ke kepolisian. Polisi pun melakukan penyelidikan tertutup, hingga akhirnya mengamankan lima orang pengecer yang seluruhnya tinggal di wilayah Karangploso.

“Lima pengecer ini, kesemuanya masih remaja berusia antara 19 tahun hingga 25 tahun,” tambah kapolsek.

Diketahui, modusnya, bocah SD yang tidak tahu pil itu awalnya diberi secara gratis dengan bujuk rayu, disebutkan pil itu bisa membikin lebih pintar jika minum.

Lama kelamaan, bocah-bocah ini kecanduan yang akhirnya menggunakan uang saku untuk membeli pil perbutirnya Rp 1.000.

Dari para pengecer inilah, polisi mampu mengembangkan hingga menemukan nama Agung Wibisono selaku pemasok 5 pengecer tersebut.

Polisi pun menggerebek rumah indekosan Agung di Dusun Gondang, Desa Tegalgondo. Meski Dendeng panggilan akrab Agung berasal dari Karangploso, ia memilih kost di Tegalgondo dan disita pula 4 Lotop dan 3 box besar.

Dalam pemeriksaan Dendeng, terungkap dua nama lain yang menjadi anggota sindikat. Yakni, Fais dan Ferdinando yang gagal digerebek di rumahnya. Polisi beralih menggeledah kamar Fais, dan ditemukan handphone milik Kutil, panggilan akrab Fais.

“Ternyata saat kami gerebek, ibunya sempat SMS agar Kutil tidak pulang karena rumahnya digerebek polisi. Sudah barang tentu pesan ini tidak bisa dibaca Fais, lantaran HP-nya ketinggalan di bawah bantal,” ujar penyidik.

Dengan tertinggalnya HP itu, polisi pun memutuskan bermalam di rumah Kutil karena berkeyakinan remaja yang diincarnya itu tak menyadari jika rumahnya sudah dikepung polisi. Menjelang subuh, Kutil pulang bersama Ferdinando.

“Begitu masuk rumah, tersangka langsung dipeluk ibunya yang menangis.


BERITA TERKAIT