Pakistan | Berita Terbaru Hari ini

Close

Pakistan

Pakistan

Pertanyaan pertama saya adalah: di mana bisa beli kartu telepon lokal. Saat saya baru mendarat di bandara Lahore. Jumat pagi lalu. "Setelah pintu keluar bagasi," jawab petugas bandara.

Ok. Berarti lebih mudah dari di Beirut dulu. Yang saya harus ke kota dulu. Cari kios penjual SIM card. Ruang penjual kartu telepon ini sebenarnya besar sekali. Tapi penuh dengan benda berserakan. Termasuk kursi-kursi tidak terawat.

Saya tidak pilih-pilih. Diberi SIM card Ufone. Terbesar dari lima perusahaan telkom yang ada di Pakistan. Saya kemukakan kebutuhan komunikasi saya: lebih banyak data dari bicara. Saya minta paket yang terbesar.

Saya diberi 2 GB. Untuk keperluan satu minggu. Saya ragu. Apakah bisa pulang dalam waktu satu minggu. Saya pun minta tambahan 1 GB lagi. Ternyata tidak bisa top up di situ. Saya diberi SIM lain lagi. Yang berisi 1 GB.

Saya copot kartu Amerika saya. Saya ganti dengan Ufone. Kartu Indonesia tetap ada di dalam. HP saya memang bisa untuk dua kartu. Hanya saja kartu Indonesia ya saya off-kan. Untuk menghindari roaminginternasional. Toh isinya nanti hanya akan lebih banyak hasutan. Dari dua kubu.

Begitu saya on-kan tidak ada tanda sinyal. "Kok tidak bisa berfungsi?“ tanya saya.

"Tunggu satu jam. Maksimum 2 jam," katanya. Ya sudah.

Tiba-tiba saja ia juga memilihkan saya hotel. Dan sopir. Saya memang tidak mau dijemput teman. Masih terlalu pagi. Saya tahu banyak orang Pakistan bangunnya siang. Seperti di dunia Arab. Atau di Spanyol.

Sopir pun langsung siap di situ. "Saya antarkan ke hotel yang bagus dan murah," kata sopir itu. Bahasa Inggrisnya cukup bagus."Tapi kalau pilihan Anda tidak baik saya tidak mau," kata saya.

"No problem," katanya.

Ternyata saya dibawa ke hotel yang jelek sekali.

Dalam perjalanan ke hotel ini ia merasa heran. Ternyata ada orang Indonesia yang bisa berbahasa Inggris.

"Hotel ini baik sekali. Lihat dululah kamarnya,"


BERITA TERKAIT

close