Diduga Pungli, Kades Ngadireso Terjaring OTT Polisi | Berita Terbaru Hari ini

Close

Diduga Pungli, Kades Ngadireso Terjaring OTT Polisi

  • 2019-11-14 penulis : Agung Priyo
  • Editor :junaedi
  • dibaca :750
Diduga Pungli, Kades Ngadireso Terjaring OTT Polisi Tersangka Kades Ngadireso, Poncokusumo Kabupaten Malang saat digelandang petugas.(agung)

Klikapa.com - Unit Tipidkor Satreskrim Polres Malang melakukan operasi tangkap tangan (OTT) terhadap Kepala Desa Ngadireso Kecamatan Poncokusumo, Kabupaten Malang, Mugiono, 50, Selasa (12/11). 

Saat digrebek, polisi juga mengamankan barang bukti uang tunai sebanyak Rp 20 juta. Uang ini diduga pemberian hasil pungutan liar (Pungli).


"Tersangka kami tangkap di warung di Jalan Panglima Sudirman Kecamatan Wajak. Uang Rp 20 juta yang kami jadikan barang bukti, kami temukan di dalam jok sepeda motor," kaa Kasatreskrim Polres Malang AKP Tiksnarto Andaru Rahutomo, Kamis (14/11).


Menurut Tiksnarto, penangkapan Kades Ngadireso ini, bermula dari pengaduan seorang warga berinisial NI. Wanita asal Desa Ngadireso ini mengaku dimintai uang Rp 60 juta oleh tersangka. 


Uang tersebut alasannya untuk menyelesaikan permasalahan sengketa tanah antara NI dengan SK. Kepada NI, Mugiono mengatakan kalau uang tersebut adalah permintaan SK. NI pun menego dan akhirnya turun menjadi Rp 20 juta.


Selanjutnya untuk menyerahkan uangnya, NI mengajak tersangka janjian di sebuah warung di wilayah Kecamatan Wajak. Begitu bertemu, uang Rp 20 juta yang diminta tersangka langsung diserahkan.


Usai menerima uang itulah, petugas yang sudah mengintai langsung menangkapnya. Selanjutnya bersama barang bukti uang Rp 20 juta serta sepeda motor Honda Revo N-5497-J, digelandang ke Mapolres Malang.


Perbuatannya Kades Mugiono dijerat dengan pasal 12 huruf e dan atau pasal 11 Undang-undang RI nomor 31 tahun 1999 tentang tindak pidana pemberantasan korupsi, yang telah diubah dan ditambah Undang-undang RI nomor 20 tahun 2001. 

"Ancaman hukumannya adalah kurungan penjara selama 20 tahun. Kasusnya juga masih kami kembangkan, apakah sebelumnya juga pernah melakukan pungutan liar," jelas Tiksnarto.


BERITA TERKAIT