Ruwatan Kenang Mbah Karimun Sang Maestro Topeng Malangan

  • 2016-12-28 penulis : Agung Priyo
  • Editor :junaedi
  • dibaca :2508
Ruwatan Kenang Mbah Karimun Sang Maestro Topeng Malangan Ruwatan dengan nyekar ke makam Mbah Karimun, yang merupakan Maestro Topeng Malangan.

MALANG - Majelis Luhur Kepercayaan Terhadap Tuhan Yang Maha Esa Indonesia (MLKI), menggelar ruwatan massal di Dusun Kedungmonggo, Desa Karangduren, Pakisaji, Kabupaten Malang, Rabu petang (28/12/2016). Kegiatan itu sekaligus untuk mengenang kilas balik Sang Maestro Topeng Malangan, Mbah Karimun, yang wafat pada 14 Februari 2010 lalu.

"Mbah Mun selain maestro, beliau juga sebagai bapak, guru dan tokoh Topeng Malang bagi kami. Banyak orang yang peduli dengan Topeng Malangan, yang ikut dalam ruwatan ini," ungkap Suroso, cucu pertama Mbah Karimun.

Kegiatan ruwatan tersebut, diawali dengan nyekar ke makam Mbah Karimun. Beberapa orang berpakaian

hitam, diiringi dua penari topeng serta membawa sesajen dan ubo rampe berjalan kaki dari Sanggar Asmoro Bangun milik Suroso. Mereka menuju makam yang berjarak sekitar 500 meter.

Usai nyekar dan ruatan di makam Mbah Karimun, rombongan paguyuban di bawah MLKI yang terdiri dari Jendro Pendawa, Kapribaden Malang, Piwulang Kaweruh Luhur, Perjalanan dan Sujud Sembah Bekti, kembali menuju Sanggar Asmoro Bangun, untuk kegiatan mocopat.

Saat pembacaan mocopat yang diikuti lebih dari 50 orang tersebut, ada ugorampe yang disuguhkan sebagai sesajen. Diantaranya adalah nasi tumpeng, air sembilan sumber, kembang setaman, banyu putih segelas, jenang abang, telor matang, kendi isi banyu, gulo jowo serta bumbu dapur jangkep.

“Inilah adalah ruwatan sukerta, yang dilakukan sederhana pada akhir tahun. Biasanya untuk ruwatan memang mencari hari baik, tetapi ruwatan kali ini kami memang tidak mencari hari. Tetapi atas kesepatan bersama dengan seluruh paguyuban MLKI,” terang Suroso.

Makna dari ruwatan ini, lanjutnya adalah penyucian untum menghilangkan balak, fitnah serta sial. Termasuk untuk meringankan langkah penerus Topeng Malangan pada 2017. Rangkaian dari ruwatan, usai pembacaan mocopat dilanjut dengan beberapa pertunjukkan kesenian dari paguyuban di bawah MLKI.

Malam harinya dilanjutkan dengan kesenian Wayang Topeng, dengan dalang Ki Kasenam Wibowo dari Ngajum. Lakon dalam wayang tersebut adalah Jenggolo Bangun Candi. Topeng Wayang ini diperagakan oleh lingkungan pecinta topeng serta alumni dari Sanggar Asmoro Bangun. (agp/mar)

KOMENTAR ANDA

Berita Terkait

Baca Juga