Mengapa Badai Selalu Menggunakan Nama Feminim? Begini Penjelasannya

  • 2017-10-03
  • Editor :junaedi
  • dibaca :984
Mengapa Badai Selalu Menggunakan Nama Feminim? Begini Penjelasannya seperti ini ketika Hempasan badai Irma (dok.kabarnews)

KETIKA kita mendengar sebutan badai, pastinya pikiran kita akan terbayang hal yang mengerikan. Tengok saja baru-baru ini. Terjangan badai di negeri Paman Sam dan Karibia. Begitu dahsyaat sehingga memaksa puluhan ribu umat manusia harus mengungsi menghindarinya.

Tapi di luar semua itu, pernahkan Anda bersifikir hampir semua nama badai di dunia ini tidak seperti seseram bentuknya. Namanya selalu mengambil nama yang feminim. Badai yang terakhir menghantam Karibia dan AS itu namanya juga Irma dan Maria.

Sselain itu masih ada juga nama badai seperti Rita di Philipina atau nama badai seperti Emily, Katrina, Katia,

sampai Agnes. Begini Penjelasannya.

Sejak 1953 hingga 1979 di Amerika Serikat selalu menamai badai dan angin topan dengan nama yang berbau feminin. Sebelum 1953, mengutip NHC, Amerika menamai badai sesuai dengan alfabet. 

Mengutip dari History, selama 150 tahun penamaan badai penuh dengan rasisme, seksisme, dan dendam. Penggunaan nama juga dipinjam dari nama tempat, tokoh religius, istri maupun kekasih, serta tokoh masyarakat yang tidak disukai.

Penggunaan nama feminin untuk menamai badai di Amerika Serikat bermula tahun 1950. Diduga tradisi maritim yang menganggap badai, laut, dan kapal sebagai 'perempuan 'menjadi salah satu alasan.

Ketika ada badai yang dipanggil dengan nama perempuan, peramal cuaca pun bersikap seksis tentang hal itu. Mereka menggunakan banyak kata-kata seksis untuk mengungkapkan perilaku badai, seperti temperamental, 'menggoda,' atau 'bermain' di pinggir pantai. 

Banyak meteorolog dan aktivis perempuan yang tidak setuju dengan hal tersebut, salah satunya ialah Roxcy Bolton, seorang feminis asal florida yang juga terkenal sebagai pionir pusat perawatan kasus pemerkosaan di Amerika Serikat.

Roxcy melakukan berbagai kampanye agar penamaan badai menggunakan nama maskulin. Sejak tahun 1970-an, sistem penamaan badai ini mulai diberikan berdasarkan nama laki-laki dan perempuan karena kesadaran masyarakat pada seksime mulai meningkat. 

Di masa kini, nama badai tak lagi hanya nama perempuan. Hal ini merupakan upaya dari Organisasi Meteorologi Dunia yang menetapkan agar penamaan badai tak lagi hanya pakai nama feminin, tapi juga maskulin. Nama badai maskulin pertama kali dipakai pada 1979 dengan nama Bob.

Hanya saja, sekalipun sudah diberikan nama maskulin, ternyata kekuatan badai dengan nama feminin jauh lebih kuat dan mematikan dibanding yang bernama maskulin.

Banyak yang beranggapan bahwa badai yang menggunakan nama maskulin tidak akan ditakuti seperti badai dengan nama feminin. 

Namun, hasil penelitian menunjukkan jumlah kematian tertinggi disebabkan oleh badai

KOMENTAR ANDA

Berita Terkait

Baca Juga