Pemkab Malang Siap Ambilalih Pengelolaan Sumber Wendit | Klikapa.com - Portal Berita Terkini

Pemkab Malang Siap Ambilalih Pengelolaan Sumber Wendit

Pemkab Malang Siap Ambilalih Pengelolaan Sumber Wendit Sumber Wendit yang menjadi sengketa antara PDAM Kota dan Kabupaten Malang.

MALANG– Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Malang siap mengambil alih pengelolaan Sumber Wendit dari PDAM Kota Malang. Hal ini disampaikan Bupati Malang, Rendra Kresna. Menyusul berlarut-larutnya pembahasan kerjasama sumber tersebut antara PDAM Kota Malang dengan PDAM Kabupaten Malang yang tak kunjung ketemu.

“Serahkan saja aset milik PDAM Kota Malang kepada kami (PDAM Kabupaten Malang), nanti dihitung dan diberi diganti rugi. Kemudian PDAM Kota bisa membeli air kepada kami,” kata Rendra, Kamis (12/10/2017).

Dijelaskan, selama ini PDAM Kota Malang belum memberikan kontribus signifikan saat mengelola air dari sumber Wendit.

Terutama tidak melakukan pelestarian lingkungan dengan menanami pepohonan maupun tumbuhan hijau sumber air yang juga digunakan sebagai tempat wisata itu.

“Selama ini yang melakukan penanaman pohon dari kami. Padahal keberadaan pohon serta tumbuhan hijau tersebut sangat penting, untuk menjaga debit serta kualitas air Sumber Wendit,” paparnya.

Menanggapi rencana PDAM Kota melaporkan ke pusat terkait pengelolaan Sumber Wendit, Rendra tidak mempedulikan. Dia menyilahkan saja melapor, telebih ia merasa secara geografis sumber Wendit terletak di Kabupaten Malang, tepatnya di Desa Mangliawan Kecamatan Pakis.

“Silahkan saja kalau lapor ke Mendagri atau kemana. Yang jelas, lokasi sumber berada di Kabupaten Malang. Sehingga harus menaati peraturan kami terkait penggunaan sumber,” paparnya.

Dia mengatakan, Pemkab Malang tidak mematok harga tinggi untuk mengelola sumber. Harganya, katanya harus wajar dan tidak memanfaatkan meraup keuntungan berlebih dari PDAM Kota Malang yang dampaknya akan memberatkan masyarakat.

Saat ini, PDAM Kota Malang menjual air kepada konsumen berdasarkan kategorisasi. Ada empat kategori yang diterapkan. Untuk kategori pertama, yang termurah Rp 2.300 permeter kubik. Sedangkan harga tertinggi Rp 16.000 permeter kubik.

“Kami minta harganya wajar,

KOMENTAR ANDA

Berita Terkait

Baca Juga