Buku Kuno 105 Tahun sebutkan Malang Pernah Menjadi Peradaban Seni Tersohor

  • 2017-10-28 penulis : bagus
  • Editor :junaedi
  • dibaca :3607
Buku Kuno 105 Tahun sebutkan Malang Pernah Menjadi Peradaban Seni Tersohor Lusiana Limono ( kanan) saat menjadi pemateri dalam bedah buku di ruang pamer Seni Rupa IKJ.

JAKARTA-Malang ternyata pernah menjadi pusat 'peradaban' seni pernah tersohor. Mulai dari karya seni rajut atau kriya hingga karya keris, tombak sampai piala air pendata Tengger kuno. Begitulah diungkap salah seorang praktisi seni rajut asal Malang Lusiana Limono di di Ruang Pamer Seni Rupa IKJ, Jakarta, Kamis (26/10/2017).

Direktur Kreatif Kait Handmade ini, saat itu  ikut membedah buku berjudul  “Seni Kerajinan Pribumi”. Salah satu buku kuno berusia 105 tahun. Dalam buku itulah yang diungkapnya, secara lengkap mengungkap seni budaya yang tersohor itu. Dan di dalam itu juga diungkapkan sejarah karya seni kriya Malang.


Menurut Lusiana, wajar jika sampai Malang memiliki sejarah seperti itu. Terlebih Malang juga pernah menjadi pusat sejumlah kerajaan besar. Bahkan dalam buku itu juga disebutkan di Turen pernah punya ahli pamor senjata yang hebat.

Sayangnya ilmu itu tidak pernah diturunkan sehingga lenyap. Karyanya keris ya tumbak, lalu piala air pendeta Tengger yang kuno juga menguap begitu saja.

Namun apakah itu juga yang kemudian 'diwariskan' menjadi pabrik Pindad di Turen, Kabupaten Malang itu? Lusiana tidak berspekulasi seperti itu.

Karya-karya anak negeri yang ditulis dalam buku itu memang banyak. Termasuk juga yang ada di sekitat Malang, seperti Gresik dan Ampel. Itu lantaran penulis buku, turun sampai Pulau Nias, Halmahera bahkan Kei Papua.

“Kalau yang berdekatan dengan Malang, lebih banyak Gresik, Ampel yang sekitar Malang. Selebihnya lengkap, karena penulis bukunya turun sampai Pulau Nias, Halmahera. Pulau. Kei Papua. Pokoknya lengkap,” paparnya.

Pada acara itu, Lusiana sebagai sisi praktisi yang melihat kriya seabad lalu dengan kondisi sekarang. Yang pasti, buku ini istimewa, hasil dari penelitian selama delapan tahun. Buku tersebut, karya seorang etnografer keturunan Indonesia-Belanda bernama J.E Jasper dan Mas Pirngadie.

Selain Lusiana, para pembedah bukunya Christina M. Udiani sebagai editor buku, Prof. Naniek Harkantiningsih dari Pusat penelitian arkeologi

Berita Terkait

Baca Juga