Belajar Seni sebagai Liburan Alternatif di Akhir Tahun

Belajar Seni sebagai Liburan Alternatif di Akhir Tahun Anak-anak mengisi liburan sekolah dengan berseni di Kampung Djanti Padepokan. (Foto: Muhammad Firman/Malang Post)

MALANG-Kampung Djanti Padepokan bisa jadi tempat rehat sejenak di tengah riuhnya aktivitas masyarakat perkotaan. Di kampung ini, pegiat-pegiat seni Kota Malang berkumpul dan menelurkan idea dan  berbagi ilmu seninya kepada siapapun yang berkunjung.

Gelaran budaya yang salah satunya digagas oleh pegiat budaya  Yongki Irawan ini memberikan sedikitnya 7 macam pelatihan seni secara cuma-cuma bagi pengunjung yang datang.“Iya s

iapapun bisa datang kesini. Tapi memang lebih banyak yang datang anak-anak sih. Gak apa-apa karena itu bagus sekali karena pusat kegiatan ini adalah tular-ajar seni budaya,” ungkap Yongki kepada Malang Post (induk Klikapa.com).

Gelaran budaya

yang sudah berlangsung sejak kemarin ini menawarkan pertunjukan seni dan pelatihan seni. Yongki menyebutkan beberapa di antaranya pelatihan bermain dolanan tradisional, membuat topeng kertas, membatik, menganyam bambu, menyukit pakaian karnival, tari-tarian, membuat wayang suket, sampai membuat payung tradisional.

“Setidaknya dari satu bidang pelatihan ada dua orang instruktur yang mengajarkan,” papar Yongki.

Ia menambahkan beberapa di antara instruktur seni ini merupakan pegiat seni kondang di Malang. Di antaranya adalah Mbah Karjo pembuat Wayang Suket dan Mbah Rasimun pembuat payung kertas tradisional dari Kampung Payung Kota Malang.

Yongki sendiri yang seorang penari tradisional pun juga memberikan ilmunya di pelatihan mencetak topeng yang terbuat dari bubur kertas.

“Kami bersyukur yang datang banyak anak-anak. Mereka ada yang ditemanin ada yang datang-datang sendiri. Kami memang butuh anak muda yang datang,” ungkap Yongki.

Kegiatan seni budaya yang diadakan sampai Sabtu (31/12) merupakan kegiatan yang dibuat dengan dasar keprihatinan terhadap budaya Kota Malang. Yongki mengungkapkan seni tradisional asal Kota Malang makin lama kian ditinggal.

Terlebih oleh anak muda alias generasi penerusnya. Maka dari itu dengan modal niat dan tekat gelaran Kampung Djanti Padepokan ini digelar pertama kalinya.

 “Konsepnya bersama, bermain, dan belajar. Semoga bisa diteruskan tiap tahun lah,” tandas Yongki. (ica/van)

KOMENTAR ANDA

Berita Terkait

Baca Juga