GBT Tak Terlihat, Bendrong, Pukul Lesung hingga Salat Gerhana Tetap Jalan

GBT Tak Terlihat, Bendrong, Pukul Lesung hingga Salat Gerhana Tetap Jalan Warga Kampung Cempluk, Desa Kalisongo, Kecamatan Dau Kabupaten Malang, menggelar bendrong.

MALANG-Super blue blood moon tak menampak di Malang raya, karena awan dan hujan. Namun, sejumlah aktivitas masyarkat menyambut gerhana bulan total (GBT) itu tetap saja digelar. Mulai dari Salat Gerhana sampai pada tradisi masyarakat yang memukul lesung.


Kepala BMKG Satgeo Karangkates Musripan mengatakan, pengamatan gerhana bulan terkendala cuaca.


“Cuaca mendung. Jadi gerhana bulan tidak terlihat,” ucapnya singkat.

Meski begitu, Sekitar 5.000 warga muslim dari seluruh penjuru Kota Malang menjalankan ibadah Salat Gerhana dengan khusyuk. Mereka memenuhi Masjid Agung Jami Kota Malang dengan antusias walaupun hujan rintik mengguyur Kota Malang.

Imam sekaligus Khatib Salat Gerhana di Masjid Agung Jami, Habib Muhsin Ali Bin Hamid mengungkapkan bahwa fenomena gerhana bulan tersebut merupakan cara Allah SWT menyapa ciptaan-NYA.

Warga Kampung Cempluk, Desa Kalisongo, Kecamatan Dau Kabupaten Malang, menggelar bendrong. Lalu masyarakat di Candi Jago Tumpang memukul lesung.

Arkeolog UM, Dwi Cahyono mengatakan, tradisi semacam ini memang sudah cukup lama ada di tengah masyarakat kita. Gerhana bulan juga terpampang pada relif di Candi Jago Tumpang dan di Arca Ganesha Karangkates.

“Pada sisi atas arca Ganesha, ada relief matahari dan bulan akan tetapi bentuknya tidak penuh. Melainkan berbentuk sabit,” ucapnya.

Artinya, katanya melanjutkan,  tradisi merayakan datangnya gerhana baik itu gerhana bulan dan matahari sudah ada sejak dulu kala.

“Juga ada cerita mitologi, bahwasanya Arjuna pernah masuk ke hutan dengan dua orang punakawannya. Saat itu, Arjuna berangkat sore hari usai hujan. Kemudian malam harinya kelelahan dan melanjutkan perjalanan dengan bantuan cahaya bulan,” terangnya. (ica)

Berita Terkait

Baca Juga