Lolos dari Lubang Aorta Dissection (5)

  • 2018-02-13 penulis : dahan iskan
  • Editor :Rista
  • dibaca :1327
Lolos dari Lubang Aorta Dissection (5) Dahlan Iskan dalam perawatan di rumah sakit

oleh Robert Lai juga. Lalu menggambar saluran darah utama yang keluar dari jantung. Bercabang menuju otak kanan dan lengan kanan.

Setelah itu ada cabang lagi menuju otak belakang. Berikutnya ada cabang lagi menuju otak kiri dan tangan kiri. Setelah itu saluran utama darah tersebut berbelok ke bawah. Untuk mengalirkan darah ke perut, liver, ginjal, pankreas dll melalui cabang masing-masing. Di bawah perut saluran darah utama itu bercabang dua: menuju kaki kiri dan kaki kanan.

“Dari hasil CT scan ini terlihat saluran utama darah Anda pecah,” katanya.

“Untung Anda tidak meninggal waktu itu terjadi

di Madinah,” tambahnya. Lalu, sambil terus mengamati layar monitor yang merekam jantung, tekanan darah dan detak jantung, James Wong menguraikan rencana tindakan untuk mengatasinya.

Ada dua skenario. Yang mana yang dipilih tergantung hasil CT scan sekali lagi. Yang lebih rinci. Akan dilakukan CT Scan khusus untuk otak, leher, dada, perut dan jantung. Jadwalnya keesokan harinya.

Dokter Mark Wong membatalkan rencana memasukkan alat ke perut saya. Meski rencananya sudah matang tapi kurang relevan lagi. Ternyata saya tidak punya persoalan pencernaan.

Skenario pertama adalah dilakukan bedah leher. Akan dibuatkan bypass saluran darah baru. Dari cabang yang menuju otak kiri ke saluran darah yang menuju otak kanan.

Dengan demikian pasok darah untuk otak kanan dan lengan kanan didapat dari saluran baru itu. Agar saat aorta dissection diatasi tidak terjadi stroke.

Saya ngeri-ngeri sedap mendengar operasi bypass di leher itu. Membayangkan apa saja yang akan terjadi. Tapi kalau memang sudah takdir saya menerimanya. Saya harus menjalani operasi besar lagi. Setelah 10 tahun lalu menjalani operasi ganti hati.

Skenario kedua, tidak perlu bypass. Asal aorta dissectionnya terjadi di saluran darah agak jauh dari cabang-cabang menuju otak tadi. Kalau ini yang terjadi, sakit saya ini disebut aorta dissection type B.

Semuanya belum bisa dikatakan sekarang. Baru jelas setelah CT scan yang lebih khusus dilakukan.

Sambil menjelaskan skenario-skenario itu, James Wong sesekali menatap layar monitor. Kian lama wajahnya kian tegang. Posisi saya tidak memungkinkan ikut melihat layar monitor. Saya hanya bisa membacanya lewat ekspresi wajah James Wong.

“Kok tekanan darah naik terus ya…,” katanya. Dia panggil perawat. Untuk memasukkan obat penurun tekanan darah. Lewat selang infus yang sudah terpasang. Tapi tekanan darah masih naik lagi.

James minta obatnya ditambah. Masih naik lagi. Minta ditambah lagi. Angka menunjukkan 200. James tampak gelisah sekali. Mondar-mandir. Tegang.

“Berapa?” tanyanya pada perawat. “210,” jawab perawat. James tidak bisa berkata-kata lagi. Tangannya yang bicara. Memberi isyarat kepada perawat. Untuk terus menaikkan obat penurun tekanan darah. Sampai maksimal.

James menangkap kegelisahan saya. “Jangan khawatir. Saya tidak akan pulang sebelum tekanan darah Anda teratasi,” kata James Wong. Saya tetap khawatir. Dia pun mengatakan akan membatalkan seluruh janji.

Beberapa saat kemudian, tekanan darah saya menurun. Terus menurun. James lega. Apalagi saya. Setelah tekanan stabil dia pun pamit. Dengan janji akan terus memonitor keadaan saya lewat telepon.

Saya pasrah. Terus memikirkan tindakan yang akan dilakukan untuk atasi aorta dissection itu. Skenario yang mana pun saya sudah siap.

Saya tidak menceritakan itu kepada keluarga di Surabaya. Biarlah semua jelas dulu. Saya tahu istri saya lagi susah. Ibunya malam itu masuk rumah sakit di Tenggarong, Kutai Kartanegara. Saya tidak mau menambah beban batinnya. Saya juga tahu dia percaya penuh pada Robert Lai yang akan merawat saya sepenuhnya.

Malam itu saya lewatkan di ICU sendirian. Ditemani dzikir tiada henti.

(bersambung)

KOMENTAR ANDA

Berita Terkait

Baca Juga