Technopreneur Jadi Ajang Mahasiswa TI untuk Berbisnis

  • 2018-03-23 penulis : rosi
  • dibaca :397
Technopreneur Jadi Ajang Mahasiswa TI untuk Berbisnis CEO PT Equnix Business Solutions, Julyanto Sutandang melakukan sosialisasi bisnis berbasis teknologi IT menggunakan software open source di UB. (Guest Gesang)

MALANG–Terbatasnya kurikulum yang secara langsung membahas open source, mendorong pentingnya edukasi teknologi sistem operasi ini. Pasalnya, software open source kini membuka peluang mahasiswa mengambil bisnis TI menjadi technopreneur.  

"Secara umum mahasiswa tahu apa itu open source, tapi hanya 1% yang paham betul teknologi ini. Ibarat udara, open source adalah teknologi milik semua orang," ujar CEO PT Equnix Business Solutions, Julyanto Sutandang usai sosialisasi bisnis berbasis teknologi IT menggunakan software open source di UB, kemarin.

Dia melanjutkan, kurikulum dalam perkuliahan IT tidak mengadopsi sistem operasi ini. Pembahasan masih di luar lingkungan detail open

source, padahal teknologi ini memiliki banyak manfaat.

Sumber daya manusia yang ahli IT di ASEAN terhitung minim. Sehingga, tidak heran di Indonesia pun jarang ada technopreneur. Mayoritas mahasiswa TI diarahkan pada analisis dan programmer.

"Kami memahami lingkungan pendidikan tinggi perlu tahu apa yang terjadi di dunia bisnis saat ini, terlebih tumbuh terus perusahaan rintisan (start up) teknologi dan e commerce," tuturnya.

Pria lulusan ITS ini menekankan untuk menjadi mahasiswa technopreneur harus memiliki kemampuan secara konsisten untuk riset. Sebab, dalam bisnis IT tidak boleh ada yang salah atas solusi yang dibutuhkan klien. Peluang bisnis yang sangat besar dan menjanjikan, membuat bisnis IT sebenarnya selalu bersaing ketat. 

"Mentalitas mahasiswa harus diperbaiki mulai sekarang. Jangan memiliki pola pikir pekerja, tapi harus mengasah pengalaman dan pengetahuan," ungkapnya.

Open source merupakan software tidak berbayar dan tengah berkembang dalam menyeimbangkan industri. Keunggulan open source adalah data base yang costnya hanya 10% dari biaya software berlisensi. Bahkan perbankan juga sudah menggunakan sistem operasi ini.

"Ada bank yang menggunakan software berlisensi dan mengalami permasalahan data base yang kemudian menggunakan open source. Mereka terbantu karena tersedia modul-modul yang membantu kinerja perbankan," bebernya.

Julyanto menegaskan, selama ini software berbasis open source masih dianggap kurang menarik daripada software berlisensi seperti Linux. Hal ini disebabkan adanya monopoli pasar dan stigma negatif open source sebagai sistem operasi yang tidak aman.

"Yang terpenting adalah expert yang mengelola, karena kami menawarkan brand solusi terbaik," tandasnya. 

Equnix melakukan edukasi kepada empat perguruan tinggi di kota Malang yaitu UB, Ma Chung, Unmer, dan STMIK PPKIA. Selain dapat menyosialisasikan keunggulan open source, juga mampu meregenerasi tenaga-tenaga IT yang nantinya menjadi technopreneur. (mg3/oci)

KOMENTAR ANDA

Berita Terkait

Baca Juga