Wajib Kerja Dokter Spesialis Selama 1 Tahun, Setelah Dinyatakan Lulus

Wajib Kerja Dokter Spesialis Selama 1 Tahun, Setelah Dinyatakan Lulus Ketua Divisi FER (Fertilitas Endokrinologi Reproduksi) RSSA, Dr dr Arsana Wiyasa I W SpOG K-FER

MALANG - Di Indonesia kebutuhan pendidikan dokter spesialis terbilang cukup tinggi. Dalam meningkatkan kompetensi dokter spesialis, telah diterapkan peraturan presiden Jokowi 2017 terkait wajib kerja dokter spesialis (WKDS) selama satu tahun. Meski begitu, beberapa dokter spesialis menilai dalam kurun waktu tersebut masih belum optimal dalam membentuk kompetensi dokter spesialis di lapangan.
"Saya berharap WKDS masih bisa ditambah jangka waktunya. Hal ini agar dokter spesialis dapat lebih maksimal lagi dan pada tahun berikutnya dapat ditempatkan kembali di wilayah tersebut," ujar Ketua Divisi Fer (Fertilitas Endokrinologi Reproduksi) RSSA, Dr dr Arsana Wiyasa I W SpOG K-FER.
Setelah dinyatakan lulus, dokter spesialis akan ditempatkan ke tiga provinsi yakni Jawa Timur, NTT dan Papua dan para dokter spesialis tersebut tak boleh menolak. Arsana mengaku, cara ini dinilai efektif untuk pemerataan dokter spesialis di tiga wilayah tersebut.
"Untuk dokter spesialis yang diwajibkan yakni ilmu penyakit dalam, obstetri, ginekologi, ilmu kesehatan anak, anastesti, dan bedah. Dalam WKDS diatur oleh Departemen Kesehatan bekerjasama dengan Kemenkes, fakultas kedokteran dan koligium," tandasnya.
Selama ini distribusi dokter spesialis masih timpang karena kebanyakan berpusat di Jawa dan Bali, sementara di wilayah lainnya minim. Untuk pemerataan itu, pemerintah tak tanggung-tanggung memberi fasilitas pada dokter yang menjalani WKDS mulai dari gaji besar sebanyak Rp 20 juta setiap bulan, rumah, mobil, jasa medis, serta pengalaman di wilayah penempatan.
"Jumlah dokter spesialis paling tinggi berpusat di DKI Jakarta sebanyak hampir 1000 orang, sementara jumlah spesialis yang observasi sebanyak 3.400. Tentu sebelum dokter ditempatkan di wilayah tertentu, ada visitasi terlebih dahulu," tegas pria yang juga menjabat sebagai Ketua Jurusan Program Pendidikan Dokter Spesialis (PPDS) FKUB itu.
Sementara itu, FKUB tengah mengembangkan alat bedah dengan teknik terbaru dari Jepang dan Jerman. Teknologi ini meminimalisir inpasive sourjery (pembedahan

Berita Terkait

Baca Juga