Bank Century Lagi Hidup Mati | Berita Terbaru Hari ini

Bank Century Lagi Hidup Mati

  • 2018-09-17 penulis : dahlan iskan
  • Editor :husnun
  • dibaca :1942
Bank Century Lagi Hidup Mati

Kuliahnya di California State University di  Chico. Sastra Inggris. Kira-kira 130 km di utara  San Fransisco.

Koran pertama tempatnya bekerja adalah Sacramento Bee: bacaan saya setiap ke Sacramento. Ibukota California. Waktu itu. Kalau lagi nengok anak saya yang kuliah di sana. Dua jam bermobil dari San Fransisco.

Tahun 2015 Berthelsen pernah disomasi wanita Malaysia: Rosmah Mansor. Agar minta maaf. Dalam 28 jam.

Itu gara-gara Asia Sentinel menulis begini: Rosmah berusaha mengganti gubernur Bank Sentral Malaysia. Dengan pejabat baru dari kroni suaminya: Perdana Menteri Malaysia, Najib Razak. Berthelsel bergeming. Tidak mau minta maaf. Tentu saja.

Yang akan disomasi Partai Demokrat itu memang memojokkan. Judulnya sexy: Indonesia’s SBY Government: ‘Vast Criminal Conspiracy’. Penulisnya: John Berthelsen sendiri.

Judul itu tidak menuduh SBY pribadi. Melainkan pemerintahan SBY.  ‘Vast Criminal Conspiracy’-nya juga pakai tanda kutip.

Berthelsen wartawan kelas berat. Setelah di Sacramento Bee ia bekerja untuk koran terkemuka di dunia: Asian Wall Street Journal. Sebagai edisi Asia. Dari Wall Street Journal New York.

Berthelsen sangat idealis. Ia pernah jadi wartawan perang. Meliput perang Vietnam. Selama delapan tahun.
Ia mendirikan Asia Sentinel juga karena idealisme: koran-koran Barat kurang mau lagi mengcover Asia.

Koran Barat semakin menjadi  koran lokal. Itulah tuntutan masyarakat baru di sana. Juga di mana saja. Termasuk di Indonesia. Koran nasional hilang. Koran lokal terbilang.

Karena itu Wall Street Journal menutup edisi Asianya.
New York Times menutup Intermational Herald Tribunenya.
Majalah Asiaweek tutup juga. Kantor biro mereka di Asia dikecilkan. Atau dibubarkan.

Berthelsen bersama mantan wartawan-wartawan eks koran terkemuka itu mendirikan Asia Sentinel. Secara online.

Tentu harusnya tidak ada yang  berang. Membaca berita Bank Century itu. Di Asia Sentinel itu. Berita itu bersumber dari dokumen gugatan perdata.

Namanya gugatan. Bisa saja menguraikan apa saja. Dari versi penggugatnya.
Mungkin benar. Mungkin salah.
Pengadilanlah yang akan menentukannya.

Tapi sebelum menurunkan tulisan tersebut harusnya Asia Sentinel melakukan cross check. Ke yang terpojokkan di tulisan itu.

Asia Sentinel tentu sudah sadar: berita itu bersumber fakta tapi sepihak. Dari dokumen gugatan saja. Yang menggugat adalah satu perusahaan investasi. Di  republik Mauritius. Negeri surganya pajak. Siapa saja boleh bikin perusahaan di sana. Tanpa harus beroperasi di sana.

Nama penggugat itu: Weston International Capital Limited. Yang digugat banyak pihak. Terutama lembaga keuangan dari Jepang: JTrust. Yang punya anak perusahaan di Indonesia: Bank JTrus Indonesia.

Dalam dokumen gugatan itulah nama Indonesia terseret. Misalnya ada nama 30  pejabat. Yang dinilai melakukan konspirasi lewat Bank Century. Yang pejabat-pejabat itu umumnya dinilai sebagai tukang stempel saja. Ikut saja skenario konspirasi entah dari siapa.

Mengapa JTrust digugat?
JTrust adalah pemenang lelang.

Saat saham bank Mutiara dijual. Di tahun 2013. Bank Mutiara itu dulunya bernama Bank Century Tbk. Pemegang saham utamanya Robert Tantular.

Bank Century nyaris kolaps. Saat terjadi krisis global. Di tahun 2008.

Para nasabahnya tentu terancam kehilangan uang. Makanya Bank Century diselamatkan. Dengan dana dari LPS. Sebesar sekian triliun rupiah itu.

Bank Century selamat. Menjadi milik LPS. Atau pemerintah. Lima tahun kemudian namanya diganti: menjadi Bank Mutiara.

Gugatan itu menyebut, seperti ditulis John Berthelsen, salah satu nasabah Bank Century dulu adalah Partai Demokrat. Uang yang disimpan di


BERITA TERKAIT

google ranking checker
google ranking checker