Ternyata Membuat Buku itu Tidak Sulit

Ternyata Membuat Buku itu Tidak Sulit

Bagi sebagian orang menerbitkan buku merupakan pekerjaan yang sulit. Banyak kerepotan yang harus dihadapi. Pekerjaan awal menerbitkan buku adalah menulis. Ini juga bukan pekerjaan mudah. Ada yang bisa menulis, tapi mungkin tidak bisa panjang sampai 200 halaman buku.

Menulis Cerpen misalnya, mungkin sekitar 1500 kata sampai 2000 kata. Tapi menulis buku, butuh tulisan yang panjang. Artinya, butuh pemikiran yang panjang sekaligus untuk menuliskannya.

Itu baru urusan menulis. Proses berikutnya, menerbitkan akan menjadi masalah yang tidak kalah besar. Sudah mampu menulis naskah buku, tapi tidak semua penerbit mau menerbitkannya.

Pasti penerbit akan melihat prospek buku itu, apakah layak jual atau tidak. Tidak mudah bagi penulis (pemula) untuk bisa menembus dunia penerbitan buku. Butuh perjuangan untuk bisa meyakinkan para penerbit tentang prospek buku tersebut.

Bila sudah menemukan penerbit yang mau menerbitkan buku, persoalan belum akan selesai. Banyak yang beranggapan, ketika buku sudah terbit, penulisnya akan mendapat honor besar.

Nanti dulu. Penulis akan mendapat royalty dari buku yang ditulis kisaran 10 persen sampai 15 persen dari harga buku. Itu tidak dibayarkan saat buku terbit, tapi saat buku sudah laku dalam jumlah tertentu. Jangan dikira kalau buku sudah ada di pasaran penulisnya sudah menikmati hasilnya. Tidak.

Diantara keruwetan menerbitkan buku itu, ada satu buku yang diterbitkan dengan mudah dan dalam waktu singkat. Bukunya berjudul Dahsyatnya Silaturrahim Bersih Hati Bersih Pikiran.

Buku ini merupakan kumpulan tulisan dari sebuah komunitas yang bernama Cowas (Konco Lawas) yaitu kumpulan mantan karyawan Jawa Pos. Ada wartawan, ada bagian iklan, ada bagian pemasaran, ada bagian distribusi dan bagian keamanan.

Para mantan karyawan Jawa Pos itu mengumpulkan tulisan yang kemudian diterbitkan menjadi buku. Bermula dari kegiatan reuni dan HUT ke-3 kelompok tersebut. Bermula dari reuni dan peringatan HUT ke-3 di desa Pentingsari di bawah kaki puncak gunung Merapi.

Sepulang dari

Berita Terkait