Wardah

  • 2018-11-20
  • dibaca :84
Wardah

Begitu banyak yang serba kebetulan di balik melejitnya kosmetik Wardah. Tapi saya tidak setuju kalau itu disebut kebetulan. Seperti juga  suksesnya Rusto’s Tempe di Jepang itu.

Wardah kini begitu majunya. Pabriknya sudah 20 hektare. Karyawan ya sudah 11.000 orang. Sudah mengalahkan pemain asing di Indonesia.

Terpilih sebagai perusahaan yang growthnya tercepat di dunia.

Nomor 6 sedunia.

Adakah semua itu kebetulan? Kebetulan yang membuatnya  menjadi begitu besar dan kaya?

Saya tetap tidak mau menyebutnya kebetulan. Wardah kembali menjadi contoh saya. Yang sering saya sebut sebagai “kebetulan yang diusahakan”.

Bos besar Wardah, ibu Nurhayati, menyebutnya sebagai pertolongan Tuhan.

Saya mendengarkan dengan antusias. Saat dia memberikan seminar di Surabaya. Sabtu lalu. Bersama saya. Di depan ibu-ibu Forum Pemberdayaan Perempuan Indonesia.

Menarik sekali pemaparannya. Ibu-ibu banyak sekali yang unjuk tangan: ingin bertanya.

Setelah tiga penanya, moderator ingin mengakhiri sesi itu. Sudah tiba waktunya giliran saya berbicara.

Saya tidak tega melihat banyaknya tangan yang diangkat.

Saya minta ini: alokasi waktu  untuk saya diberikan ke ibu Nurhayati. Untuk melanjutkan tanya jawab itu. Ini kan tema yang hot untuk ibu-ibu: kosmetik, tokoh wanita, sukses sebagai istri, sukses sebagai ibu, sukses sebagai pengusaha, sukses sebagai pribadi, terus melejit dan kaya.

Saya juga perlu lebih banyak mendengar. Untuk bahan menulis di disway ini.

“Saya tambahkan teori empat P menjadi lima P,” ujar bu Nurhayati. “Product, Price, Place, Promotion dan ini dia: Pertolongan Tuhan”.

Begitu banyak pertolongan Tuhan itu untuk Wardah.

Saya bisa menambahkan satu sukses lagi untuk beliau: sukses menahan diri.

Lihatlah: beliau rendah hati. Tanpa tampak sengaja merendahkan hati. Baju panjangnya bagus. Tapi tidak mewah. Bahannya songket.

Sandalnya biasa saja. Tidak jelek. Juga tidak mahal. Saya sebut sebagai sandal fungsional: yang penting enak dipakai. Dan sehat untuk struktur tulang pemakainya.

“Bu…”, tanya saya saat berdua di dalam mobil. Agak hati-hati. “Kok ibu tidak pakai make up?”

  • 1
  • 2
  • 3
  • Berita Terkait