Miris, SDN di Kabupaten Malang ini Hanya Ada 2 Guru | Berita Terbaru Hari ini

Close

Miris, SDN di Kabupaten Malang ini Hanya Ada 2 Guru

Miris, SDN di Kabupaten Malang ini Hanya Ada 2 Guru Suasana pembelajaan para siswa SDN Dadapan 03, Kecamatan Wajak, Kabupaten Malang.

Klikapa.com-MALANG - Kisah memilukan semacam yang ada di film Laskar Pelangi, masih ada di Kabupaten Malang. Tepatnya di Sekolah Dasar Negeri (SDN) Dadapan 03. Sebuah tempat menimba ilmu yang berada di kawasan pinggiran Dusun Jangkung, Desa Dadapan, Kecamatan Wajak ini, hanya ada 2 pengajar yang membimbing puluhan siswa.


Karena minimnya jumlah guru yang membimbing, salah satu pengajar juga harus merangkap sebagai Kepala Sekolah. Praktis, dari kelas satu hingga kelas enam, hanya dua pahlawan itu saja yang bersedia menularkan ilmunya kepada putra putri kebanggaannya.


Mereka adalah Hadi Subagyo (guru) dan Nasikan (Kepala Sekolah). Keduanya saling bersinergi untuk mengasuh siswa siswi yang total hanya memiliki 30 pelajar itu. Dimana, kelas satu hanya ada sembilan siswa, kelas dua dan kelas tiga masing-masing tiga siswa, kemudian kelas empat enam siswa, kelas lima empat siswa, terakhir kelas enam dengan lima siswa.


“Ya karena keterbatasan jumlah pengajar, terpaksa kami mengajar semanpunya. Biasanya kami juga menyiasati dengan cara memberi tugas melalui buku pelajaran yang dimiliki sekolah. Memang kurang maksimal, hanya dapat sedikit penjelasan dan materi, kemudian kami bergeser ke kelas lain. Rutinitas setiap hari saat pelajaran dimulai, mau bagaimana lagi,” keluh Nasikan, dengan nada lirih.


Meski saat ini dalam kondisi terpuruk, namun dimassanya SDN Dadapan 03 pernah mengasuh ratusan siswa. Hingga akhirnya, terbatasnya jumlah masyarakat sekitar, serta adanya sekolah Madrasah ibtidaiyah (MI) yang diresmikan sekitar dua tahun lalu, membuat sekolahan ini menjadi sepi peminat, meskipun berpredikat sekolah negeri.


Sejak saat itu, kisah memilukan terus berdatangan. Selain jumlah siswa yang kian merosot, pengajar Guru Tidak Tetap (GTT) yang pernah mngabdikan dirinya, juga memilih banting stir.
“Dulu sekolah kami sempat punya lima GTT, tapi sejak tidak ada kepastian dari pemerintah, mereka memilih untuk mencari penghasilan di bidang lain,” tutur


BERITA TERKAIT