Restorasi Mental Perusak Kebinekaan | Berita Terbaru Hari ini

Close

Restorasi Mental Perusak Kebinekaan

  • 2019-01-29
  • Editor :goly
  • dibaca :16947
Restorasi Mental Perusak Kebinekaan Abdul Wahid, Wakil Direktur I Bidang akademik Program Pascasarjana Universitas Islam Malang

Salah satu problem serius yang terjadi di tengah berkemasyarakatan Inddonesia adalah kekerasan. Kekerasan seolah menjadi identik perilaku (sebagian) manusia Indonesia, padahal manusia Indonesia adalah manusia yang hidupnya berpayung ideologi Pancasila, suatu ideologi yang mengajarkan hidup berkeadaban, berkemanusiaan, dan  berkeadilan.


Suatu kondisi yang aneh jika kita sering dihadapkan dengan perilaku manusia Indonesia yang mengatasnamakan perintah agama, yang isi perintahnya mengharuskan setiap yang meyakininya untuk melakukan atau menghadirkan sejumlah radikalitas guna melawan (menghancurkan) Pancasila.


Kalau dalam doktrin Islam sudah jelas  terdapat ajaran yang melarang perilaku kekerasan. Dalam doktrin Islam digariskan supaya manusia menjalani kehidupannya dengan prinsip saling mencintai dan melindungi, dan bukan saling mendestruksi dan mendehumanisasi.


Sayangnya kekerasan yang berimplikasi pertumpahan darah secara masif atau berdampak disharmoni interaksi sosial dalam kebinekaan masih demikian sering terjadi, yang kesemua ini akibat ulah seseorang atau sekelompok orang yang belum menyadari kalau dirinya tergolong pemaham dan ”produsen” kejahatan dan kekejian, dan masih terbelenggu keyakinan kalau yang dilakukannya adalah kebenaran atau opsi yang sejalan dengan perintah Tuhan.


“Berbuat baiklah kepada orang-orang jahat karena merekalah yang paling banyak membutuhkan kebaikan.” Ashleigh Brilliant, penulis dan kartunis Inggris ini mengingatkan tentang kewajiban setiap manusia untuk terus menerus melakukan gerakan pencerdasan atau penyadaran terhadap seseorang atau sejumlah orang yang terbelenggu dalam pikiran dan perilaku berkebiadaban.


Kondisi tersebut sebenarnya tidak lepas dari pola kepemimpinan yang tidak mewujudkan keadilan di tengah masyarakat. Selama pemimpin belum menunjukkan kesungguhannya dalam memimpin yang berorientasi menegakkan keadilan, maka kekerasan demi kekerasan akan tetap terjadi. Kekerasan adalah satu dampak pola kepemimpinan yang tidak mengupayakan secara maksimal tegaknya keadilan sosial, hukum, politik, edukasi, dan lain sebagainya.


Pemimpin memang memegang kunci terhadap terjadi tidaknya atau meluas tidaknya kekerasan di tengah masyarakat, namun mentalitas setiap pelaku kekerasan atau bibit-bibit subyek sosial


BERITA TERKAIT