Restorasi Mental Perusak Kebinekaan | Portal Berita yang menyajikan informasi dan berita terbaru hari ini

Close

Restorasi Mental Perusak Kebinekaan

  • 29-01-2019
  • Editor :goly
  • dibaca :23525
Restorasi Mental Perusak Kebinekaan Abdul Wahid, Wakil Direktur I Bidang akademik Program Pascasarjana Universitas Islam Malang

dan keagamaan, serta politik yang punya kecenderungan melakukan kekerasan harus disembuhkan.


Mereka itu berkewajiban merestorasi mentalitasnya supaya merasionalisasikan diri dan aksi-aksinya dalam bingkai hidup yang berbasis kebersamaan atau kebahagiaan dalam kebinekaan.  Kalau restorasi ini tidak dilakukan secara berkelanjutan dan progresifitas, maka jangan berharap terwujudnya atmosfir damai. Selalu saja akan muncul ancaman-ancaman yang bersumber dari kecenderungan perilaku destruktifnya.


Nabi Muhammad bersabda, “semua anak cucu Adam sering berbuat salah dan sebaik-baik orang yang banyak berbuat salah adalah mereka yang banyak bertaubat.”[HR. Ahmad; Tirmidzi; IbnuMâjah; Dârimi].Hadis ini menunjukan, bahwa tidak sedikit diantara manusia ini yang terlibat melakukan kekejian atau kebiadaban.


Mereka yang terperosok melakukan itu merupakan “proyek” yang tidak boleh diabaikan (telantarkan), sehingga konsekuensinya, setiap diri subjek beragama, apalagi para pemimpin punya kewajiban untuk melakukan restorasi supaya mereka menemukan jalan kebenaran atau mencapai ranah pentobatan.


Untuk sampai keranah menemukan jalan kebenaran, setiap elemen pemimpin bangsa ini punya kewajiban asasi menjadi paedagog di tengah keragaman. Pemimpin ini di manapun wajib hadir dengan perannya tanpa membedakan stratifikasi sosial, politik, agama, budaya, dan lainnya untuk menghadirkan atmosfir dialog pencerahan agama yang membebaskan, memanusiakan, dan memberikan keadilan.


Salah satu tema penting yang harus dikampanyekan diantaranya firmanTuhan berikut: “Dan orang-orang yang menyakiti orang-orang yang Mukmin dan Mukminat tanpa kesalahan yang mereka perbuat, maka sesungguhnya mereka telah memikul kebohongan dan dosa yang nyata.” [al-Ahzâb/33: 58].


Kata penting dalam ayat tersebut adalah ”orang-orang yang menyakiti”. Mengapa demikian? Karena soal siapa yang disakiti bias bermacam-macam, seperti dari komunitas muslim, Kristen, Budha, Hindu, dan seterusnya. Mereka yang menyakiti atau berbuat keji ini, tidak otomatis menjadikan komunitas agama tertentu yang dijadikan targetnya. Bisa jadi komunitas seagama pun dijadikan tumbal hajat keagamaanya.


Terbukti saat aksi peledakan bom di sejumlah tempat di Indonesia, tidak sedikit orang Islam yang menjadi korbannya. Testimoni para teroris memang sangat beragam, akan tetapi ada beberapa kata dalam testimonya yang secara general menunjukkan pembenaran cara yang digunakannya, bahwa ”orang muslim” yang meninggal dalam peledakan bom adalah bagian dari risiko jihad, sehingga tumbal atau korban itu dijadikannya sebagai normalisasi dan rasionalisasi keberagaannya.


Bagi kita (para pemimpin) yang mencintai atmosfir damai di tengah kebhinekaan, gerakan yang bisa atau harus dilakukan sebagai langkah melawan pembangkangan atau penolakan itu, diantaranya adalah selalu memberikan pencerahan pada setiap elemen keluarga atau masyarakat, khususnya kaum mudanya untuk melihat dan mencerdasi Indonesia dengan segala kekayaan (keunggulan) yang dimilikinya.


Jika langkah itu terus dilakukan dan dikembangkan, maka akan terbentuk komunitas muda yang cerdas dan bening nurani dalam menyikapi berbagai bentuk pengaruh dan pergulatan pemikiran, terutama yang terus menerus berusaha mempengaruhi dan menjinakkannya sampai ke  ranah ketidakberdayaan yang serius.


”Harapan bukanlah keyakinan bahwa sesuatu akan berubah menjadi baik, namun kenyataan bahwa semua hal itu masuk akal, tergantung bagaimana cara kita mengubahnya” demikian ujar Vaclav Havel, dramawan Chechnya dan Presiden Cekoslovakia (1989–1992), yang mengingatkan setiap subjek berbangsa dan bernegara untuk giat mengubah kondisi buruk menuju (mencapai) atmosfir yang memihak kepentingan masyarakat.


Kebhinekaan yang rentan dirusak oleh tangan-tangan kotor seperti kaum radikalis dan teroris, haruslah terus dilawan dengan cara mengubah cara berfikir dan berperilaku setiap elemen bangsa ini, terutama kaum mudanya untuk menerima atau ”mengamini” realitas keragaman sebagai bagian dari konstruksi hak demokratisasinya.


Pengubahan cara berfikir itu dapat dilaksanakan di sekolah, di rumah, atau di tempat-tempat yang biasa digunakan komunitas muda dalam mendialogkan ”agenda problem bangsa”. Kalau cara berfikirnya terus diedukasikan, setidaknya kita berhasil memberikan modal padanya untuk membentengi diri dari perangkap jaringan radikalisme dan terorisme. (*)

 

(*) Oleh Abdul Wahid
Wakil Direktur I


BERITA TERKAIT