Restorasi Mental Perusak Kebinekaan | Portal Berita yang menyajikan informasi dan berita terbaru hari ini

Close

Restorasi Mental Perusak Kebinekaan

  • 29-01-2019
  • Editor :goly
  • dibaca :23522
Restorasi Mental Perusak Kebinekaan Abdul Wahid, Wakil Direktur I Bidang akademik Program Pascasarjana Universitas Islam Malang

orang Islam yang menjadi korbannya. Testimoni para teroris memang sangat beragam, akan tetapi ada beberapa kata dalam testimonya yang secara general menunjukkan pembenaran cara yang digunakannya, bahwa ”orang muslim” yang meninggal dalam peledakan bom adalah bagian dari risiko jihad, sehingga tumbal atau korban itu dijadikannya sebagai normalisasi dan rasionalisasi keberagaannya.


Bagi kita (para pemimpin) yang mencintai atmosfir damai di tengah kebhinekaan, gerakan yang bisa atau harus dilakukan sebagai langkah melawan pembangkangan atau penolakan itu, diantaranya adalah selalu memberikan pencerahan pada setiap elemen keluarga atau masyarakat, khususnya kaum mudanya untuk melihat dan mencerdasi Indonesia dengan segala kekayaan (keunggulan) yang dimilikinya.


Jika langkah itu terus dilakukan dan dikembangkan, maka akan terbentuk komunitas muda yang cerdas dan bening nurani dalam menyikapi berbagai bentuk pengaruh dan pergulatan pemikiran, terutama yang terus menerus berusaha mempengaruhi dan menjinakkannya sampai ke  ranah ketidakberdayaan yang serius.


”Harapan bukanlah keyakinan bahwa sesuatu akan berubah menjadi baik, namun kenyataan bahwa semua hal itu masuk akal, tergantung bagaimana cara kita mengubahnya” demikian ujar Vaclav Havel, dramawan Chechnya dan Presiden Cekoslovakia (1989–1992), yang mengingatkan setiap subjek berbangsa dan bernegara untuk giat mengubah kondisi buruk menuju (mencapai) atmosfir yang memihak kepentingan masyarakat.


Kebhinekaan yang rentan dirusak oleh tangan-tangan kotor seperti kaum radikalis dan teroris, haruslah terus dilawan dengan cara mengubah cara berfikir dan berperilaku setiap elemen bangsa ini, terutama kaum mudanya untuk menerima atau ”mengamini” realitas keragaman sebagai bagian dari konstruksi hak demokratisasinya.


Pengubahan cara berfikir itu dapat dilaksanakan di sekolah, di rumah, atau di tempat-tempat yang biasa digunakan komunitas muda dalam mendialogkan ”agenda problem bangsa”. Kalau cara berfikirnya terus diedukasikan, setidaknya kita berhasil memberikan modal padanya untuk membentengi diri dari perangkap jaringan radikalisme dan terorisme. (*)

 

(*) Oleh Abdul Wahid
Wakil Direktur I Bidang akademik Program Pascasarjana Universitas Islam Malang dan pengurus AP-HTN/HAN dan penulis sejumlah buku korupsi


BERITA TERKAIT