Isu Kiamat Sudah Dekat, Warga Ponorogo Mengungsi ke Malang | Berita Terbaru Hari ini

Close

Isu Kiamat Sudah Dekat, Warga Ponorogo Mengungsi ke Malang

  • 2019-03-14
  • Editor :goly
  • dibaca :3555
Isu Kiamat Sudah Dekat, Warga Ponorogo Mengungsi ke Malang AKBP Budi Hermanto, Kapolres Batu, saat menggelar konferensi pers di Polres Batu, Rabu (13/3/2019).

KLIKAPA - Sekitar 52 warga Desa Watu Bonang, Kecamatan Badegan, Ponorogo, secara serentak pindah ke Malang,Jawa Timur, lantaran adanya isu kiamat sudah dekat. Isu potong tangan anak untuk dijadikan santapan pun mengiringi pengungsi kiamat Ponorogo Jawa Timur.


Selain isu potong tangan anak, beredar informasi yang menyebutkan bahwa Pondok Pesantren (Ponpes) Miftahul Falahi Mubtadin’ (MFM) Malang mengajarkan beberapa hal yang dianggap melenceng dari Alquran dan hadits.
Ponpes MFM dijadikan sebagai tempat para pengungsi kiamat Ponorogo. Mereka percaya akan selamat jika mengungsi ke tempat ini.


Ponpes MFM pun dianggap memberikan doktrin yang tidak sesuai dengan Alquran dan sunnah, mulai dari isu kiamat sudah dekat, soal perang hingga kemarau panjang.
Beredar pula indormasi bahwa jamaah diminta menjual semua aset dan menyetor ke pondok. Ada pula info soal senjata tajam berupa golok yang dijual seharga Rp 1 juta untuk kepentingan perang.


Bahkan, yang paling mengerikan adalah isu anak-anak diharuskan memotong tangan adiknya untuk menjadi santapan makanan.
Isu menyesatkan itu langsung disikapi Muspika Kasembon, Kabupaten Malang, Jawa Timur. Mereka menggelar pertemuan untuk membahas masalah tersebut.
Setelah pertemuan, mereka memberikan keterangan pers untuk menepis isu yang menggemparkan masyarakat Ponorogo dan Malang tersebut.


MUI, KUA, dan MWC NU Kasembon, serta pimpinan Pondok Pesantren Miftahul Falahi Mubtadin’ (MFM) kompak menyatakan bahwa isu yang viral di media sosial itu tidak benar alias hoax.
“Dari isu yang beredar di kalangan masyarakat mengenai ajaran di pondok pesantren tersebut kita mengklarifikasi, dengan menepis isu–isu tersebut,” ujar AKBP Budi Hermanto, Kapolres Batu, saat menggelar konferensi pers di Polres Batu, Rabu petang (13/3/2019).


Budi menyatakan, informasi-informasi yang telah beredar tersebut sangat meresahkan dan menimbulkan ketakutan di masyarakat, bahkan di lingkungan ponpes lainnya.
“Yang paling mengerikan adalah anak-anak kelas 5 SD, di saat musim paceklik


BERITA TERKAIT