Peretasan dan Jejaring Sosial Jadi Medan Perang Jelang Pemilu 2019 | Berita Terbaru Hari ini

Close

Peretasan dan Jejaring Sosial Jadi Medan Perang Jelang Pemilu 2019

  • 2019-03-14
  • Editor :goly
  • dibaca :1158
Peretasan dan Jejaring Sosial Jadi Medan Perang Jelang Pemilu 2019 Ilustrasi Hacker

KLIKAPA - Hacker, atau peretas, dengan menggunakan alamat protokol dari China dan Rusia telah menyerang pusat data pemilih dengan tujuan mengganggu jalannya proses pemilihan presiden mendatang, seperti yang diungkapkan oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU).


Ketua KPU Pusat, Arief Budiman mengatakan, serangan yang terjadi hampir setiap jam ke KPU adalah, upaya untuk memanipulasi dan memodifikasi konten, termasuk menciptakan pemilih siluman.


Seperti yang dikutip dari Bloomberg, Arief Budiman mengatakan, belum jelas apakah motivasi serangan ini untuk mengacaukan jalannya pemilihan umum atau untuk membantu memenangkan salah satu kandidat.


Namun, pengamat dari Lowy Institute di Australia mengatakan, tidaklah jelas apa yang menjadi ketertarikan Rusia dan China terhadap pemilu di Indonesia dan berbeda alasannya dengan tuduhan keterlibatan Rusia pada pilpres di Amerika Serikat yang dimenangkan oleh Donald Trump.


"Saya rasa berbeda situasi dan konteksnya, selain itu banyak organisasi di dunia yang juga menjadi korban serangan peretasan sehingga tidak hanya Indonesia," ujar Ben Bland, peneliti sekaligus Direktur Southeast Asia Project di Lowy Institute.


Tidak hanya itu, Ben juga mempertanyakan seberapa banyak orang Rusia dan China yang memiliki kemampuan berbahasa Indonesia.
"Pada umumnya, KPU dan Panitia Pengawas Pemilu (Panwaslu) telah melakukan pekerjaan mereka dengan baik selama beberapa dekade untuk meningkatkan kualitas dan efisiensi pemilhan umum."


Sebelumnya, Arief mengatakan bahwa serangan dari Rusia dan China itu bukan sebagai institusi negara, melainkan individual, bahkan bisa jadi orang Indonesia sendiri dengan menggunakan protokol internet internasional.


Sebagai penyelenggara, KPU juga mengatakan, serangan peretasan pada sistem data pemilih sudah terjadi sejak Pemilu 2014 dan pihaknya memastikan serangan tidak akan mengganggu proses pemilu pada bulan April mendatang.
Rusia telah membantah keterlibatannya dan lewat juru bicaranya mengatakan negaranya tidak ingin mencampuri urusan dalam negeri. Hal yang sama juga telah dinyatakan oleh Kementerian Luar Negeri


BERITA TERKAIT