Kemenangan dan Skenario Pemilu Rusuh | Portal Berita yang menyajikan informasi dan berita terbaru hari ini

Close

Kemenangan dan Skenario Pemilu Rusuh

  • 31-03-2019
  • Editor :goly
  • dibaca :50153
Kemenangan dan Skenario Pemilu Rusuh Ilustrasi

akan menjadi pemenang Pilpres 2019. Jika situasinya terus berlanjut sampai dua pekan ke depan, hampir dapat dipastikan laju Prabowo-Sandi sepertinya tak terbendung lagi.


Pantas saja kondisi ini membuat tidak nyaman pendukung Jokowi. Dalam twit lanjutan, Jenderal Gatot melampirkan arsip pernyataan Jenderal Besar AH Nasution yang menegaskan pihak yang mempertentangkan Pancasila dan Islam adalah PKI.
“Jangan lupakan sejarah, siapa sesungguhnya pihak yang suka memecah belah negara ini!”


Gatot benar, sejarah mengajarkan kepada kita, PKI mencoba meraih kekuasaan melalui cara-cara mengadu domba rakyat, dan umat beragama.
Lebih jauh lagi, Gatot sepertinya sedang mengirim pesan, ada skenario jahat dari pihak-pihak tertentu untuk membuat pemilu batal sehingga Prabowo gagal menjadi presiden. Itu sebabnya, jangan mau diadu-domba.


Pilpres adalah ajang demokrasi. Kontestasi antar-putra-putri terbaik bangsa. Kontestasi dan ajang adu gagasan untuk mensejahterakan rakyat. Bukan perang total. Apalagi perang ideologi. Rakyat jangan terprovokasi. Jangan terpancing. Jangan tersulut dan masuk dalam skenario membuat kerusuhan.


Ketua Dewan Pertimbangan MUI, Prof. Dr. M. Din Syamsuddin, pun tampaknya menyadari apa yang terjadi dan bakal terjadi. Mendasarkan Taushiyah Dewan Pertimbangan MUI, sebagai hasil Rapat Pleno Ke-37, 28 Maret 2019, ia mengeluarkan imbauan.
“Sebaiknya kedua kubu Paslon Presiden-Wapres menghindari penggunaan isu keagamaan, seperti penyebutan khilafah, karena itu merupakan bentuk politisasi agama yg bersifat pejoratif (menjelekkan),” imbaunya.


Walaupun di Indonesia khilafah sebagai lembaga politik tidak diterima luas, namun khilafah yang disebut dalam Al-Qur'an adalah ajaran Islam yg mulia (manusia mengemban misi menjadi Wakil Tuhan di Bumi/ khalifatullah fil ardh).
Mempertentangkan  khilafah dengan Pancasila, menurut Din, adalah identik dengan mempertentangkan  Negara Islam dengan Negara Pancasila, yang sesungguhnya sudah lama selesai, dengan penegasan Negara Pancasila sebagai Darul Ahdi was Syahadah (Negara Kesepakatan dan Kesaksian). “Upaya mempertentangkannya merupakan upaya membuka luka lama dan dapat menyinggung perasaan umat Islam,” tulisnya.


Menisbatkan sesuatu yang dianggap Anti Pancasila terhadap suatu kelompok  adalah labelisasi dan generalisasi (mengebyah-uyah) yang berbahaya dan dapat menciptakan suasana perpecahan di tubuh bangsa.
Selanjutnya, Din mengimbau segenap keluarga bangsa agar jangan terpengaruh apalagi terprovokasi dengan pikiran-pikiran yang tidak relevan dan kondusif bagi penciptaan Pemilu/Pilpres damai, berkualitas, berkeadilan, dan berkeadaban. (*)


Oleh : Miftah H. Yusufpati (Wartawan Senior)


BERITA TERKAIT