Memilih Pemimpin Langit | Berita Terbaru Hari ini

Close

Memilih Pemimpin Langit

Memilih Pemimpin Langit Pengajar Ilmu Hukum Universitas Islam Malang dan pengurus APHTN/HAN.

Mao Tze Tung pernah mengingatkan, bahwa perang itu pertarungan politik yang berdarah, sedangkan politik itu perang yang tidak berdarah. Artinya, pemilu  2019 merupakan ranah pintu gerbang politik untuk mendapatkan sosok pemimpin yang ditempuh melalui jalan pertarungan yang tidak berdarah.


Jabatan sebagai pemimpin apa itu dari jalur eksekutif (presiden dan  wapres maupun legislatif (DPR, DPRD, dan DPD)  memang menggiurkan. Bayangkan saja, ia kemana-mena harus ditemani pengawal atau tenaga khusus, pelayanan prima, dan terpenuhi berbagai kebutuhan istimewa lainnya. Ia layaknya manusia paling sempurna di muka bumi, yang bisa menikmati apa yang orang lain “mustahil” bisa menikmatinya.


Logis saja kalau kemudian jabatan menjadi pemimpin pemerintahan diperebutkan banyak orang. Pasalnya, jabatan ini bisa membuatnya tertulis dalam sejarah Indonesia sebagai manusia-manusia utama. Dari sudut pembiayaan untuk menemukan  banyak pemimpin  ini, puluhan triliun rupiah uang rakyat dikeluarkan guna menyukseskan pemilu.


Masalahnya, apakah dengan menjadi pemimpin ini,  ia menyadari makna perikatan tanggungjawabnya secara moral-spiritual  untuk menjadi sosok pelaku perubahan di segala lini bangsa?  John C. Maxwell bilang “kepemimpinan adalah perjalanan seumur hidup, bukan perjalanan singkat”. Pernyataan tersebut tentu mengundang tanda tanya, apa yang dimaksud kepemimpinan sebagai perjalanan seumur hidup.


 Apakah kalau seseorang jadi pemimpin  itu berarti harus menduduki kursi kepemimpinannya seumur hidup? atau apakah kalau seseorang jadi pemimpin berarti ada tuntutan moral yang harus dijalani dan dipertanggungjawabkan seumur  hidupnya? Atau apakah ketika menjabat sebagai pempimpin,  ia berarti memasuki wilayah akuntabilitas moral sepanjang hayat?


Yang jelas, perjalanan seumur hidup bagi seseorang yang sedang memimpin negara bukanlah bermakna keabadian dalam menduduki kursi atau jabatan yang dipercayakan kepadanya, tetapi bermaknakan “pertanggungjawaban langit” yang harus dijalani sepanjang hidupnya, meski dirinya sudah tidak lagi menempati kursi formalitas, tidak lagi menjabat, atau tidak memimpin institusi yang sebelumnya dipercayakan kepadanya.


Seseorang yang menjadi pemimpin


BERITA TERKAIT

close