Ekor Kepala | Berita Terbaru Hari ini

Close

Ekor Kepala

Ekor Kepala

polisi diperbolehkan masuk kampus. Untuk menangkap para aktivis di kampus itu. Atau menangkap mereka yang lari ke kampus tersebut. 

Di Institut Desain mereka juga marah. Seorang siswi 15 tahun ditemukan tewas di pantai. Tidak jauh dari kampus. Penyebabnya masih belum jelas. Dia siswi kejuruan yang sekolahnya di kampus itu.

Mereka menuntut universitas membuka CCTV. Yang dipasang di banyak sudut kampus. Secara utuh. Jangan ada yang diedit. Untuk mengetahui mengapa siswi itu tewas.

Kampus pun panas.

Pimpinan universitas akhirnya memutar rekaman CCTV itu. Di depan mahasiswa. Tapi tidak terlihat ada yang mencurigakan. 

Justru itu yang membuat mahasiswa marah. Rekaman CCTV itu dianggap sudah diedit. Mereka menuntut rekaman lengkap. Lalu ngamuk. Kaca-kaca dipecahi.

Sampai tadi malam belum diketahui mengapa mahasiswi yang sering ikut demo itu tewas.

Di lain pihak, pemimpin Hongkong sendiri, Carrie Lam, tampak kian percaya diri. Termasuk tidak mau menemui tamunya: anggota Kongres Amerika. Yang lagi berkunjung ke Hongkong.

Carrie Lam juga masih bisa berpikir program. Untuk memulai langkah baru: merencanakan perubahan sistem penyediaan rumah murah. Yang selama ini jadi momok di kalangan bawah di Hongkong.

Dalam sidang parlemen Rabu kemarin Carrie Lam banyak mengajukan program baru. Yang dianggap sebagai akar masalah sosial. 

Misalnya, tiga tahun ke depan akan dibangun rumah singgah. Rumah sementara. Sejumlah 3.000 rumah.

Itu untuk mereka yang berada dalam daftar antre. Yang sampai hari ini belum tahu kapan bisa membeli rumah. 

 

Peminat rumah lebih banyak dari kemampuan membangun rumah baru. Harga rumah terus meningkat.

Pemerintah pusat di Beijing sampai mengecam para kapitalis real estate di Hongkong. Sambil minta pemerintah Hongkong untuk tegas: kalau perlu menyita tanah kosong milik para kapitalis itu. Untuk dibangun perumahan.

Rupanya seruan itu dipenuhi Lam. Dalam paparan di video Rabu lalu itu disebutkan: dia sudah mendapat 450 ha tanah baru. Dari hasil pembatalan izin seperti yang diserukan. Masih ditambah 250 ha lagi. Menjadi 700 ha.

Lam juga menambah plafon kredit pembelian rumah. Menggratiskan beberapa jalan tol dalam kota - -khususnya toll terowongan. 

Tapi Amerika terus memberikan dukungan ke pendemo. Kemarin DPR Amerika mengesahkan UU Demokrasi dan Hak Asasi  Hongkong.

Dengan UU itu Amerika akan terus mengevaluasi Hongkong. Terutama tingkat pelaksanaan demokrasi dan hak asasi di bekas jajahan Inggris itu. 

Kalau hasil evaluasi menyebutkan 'tidak baik' Amerika berhak menjatuhkan sanksi. Tidak hanya pada Hongkong. Pun kepada Tiongkok.

Memang UU itu belum otomatis berlaku. Masih harus menunggu keputusan Senat Amerika. Tapi rasanya tidak sulit.

Apakah itu mematikan?

Sama sekali tidak. Itu baik saja bagi Hongkong, bagi Tiongkok dan bagi dunia.

Asal niatnya baik.

Paling, kelak akan ada kisruh perbedaan penilaian. Intinya: suka-suka Amerika-lah.

Tapi lahirnya UU di AS itu bisa juga disebut demo itu telah berhasil. Kini dunia ikut menjaga demokrasi di Hongkong.

Tuntutan inti yang pertama-tama disuarakan generasi muda itu juga sudah dipenuhi. Dicabutnya RUU Ekstradisi.

Dari segi akar masalah sosial juga berhasil: soal sulitnya perumahan di Hongkong akan diselesaikan segera.

Tapi demo ini sudah jadi bubur. Terlanjur banyak tuntutan-tuntutan baru. Yang --menurut pendemo-- tidak bisa dipisahkan dari tuntutan asli. Ekor sudah menyatu dengan kepala. Misalnya soal penyelidikan independen terhadap tindakan polisi. Yang mereka anggap brutal. Melebihi ketentuan hukum.

Juga tuntutan soal aktivis yang ditahan. Yang jumlahnya, kini, mencapai hampir 3.000 orang. Mereka minta harus dibebaskan. 

Semua itu memang tuntutan ekor. Tapi ekornya kini sudah lebih besar dari kepala. Menangkap ekor kadang lebih sulit dari meringkus kepala. Dalam hal apa saja.(Dahlan Iskan)


BERITA TERKAIT