Indah Kumuh | Portal Berita yang menyajikan informasi dan berita terbaru hari ini

Close

Indah Kumuh

Indah Kumuh

dengan imam masjid itu. Ayahnya juga imam di situ. Demikian juga kakeknya.

Tentu saya juga masuk Taj Mahal. Sebentar sekali. Yang isinya hanya batu nisan raja yang membangun gedung itu. Dan istri ketiganya --setelah dua istri sebelumnya tidak memberinya anak.

Batu nisan itu pun hanya replika. Yang asli ada di lantai bawah. Ditutup untuk umum.

Saya tidak perlu bercerita tentang keindahan Taj Mahal. Sudah terlalu banyak tulisan tentang ini. Juga soal keistimewaan marmernya. Yang kalau diberi sinar berubah warna.

Tapi teman saya itu sempat mengetes keislaman saya.

"Coba tebak, hiasan di pintu masuk Taj Mahal itu apa?" tanyanya.

Saya pun memperhatikan ukiran yang melengkung mengikuti bentuk gerbang itu.

"Lho itu seperti tulisan Arab," kata saya dalam hati.

Saya pun lebih mendekat. Benar. Hiasan itu sebuah kaligrafi. Agak lama saya mencoba menghubung-hubungkan ukiran di marmer itu. Lalu mencari tahu apakah bisa dibunyikan. Dan dari mana tulisan itu dikutip.

"Oh... Itu surah Al Fajr," kata saya pada teman itu. "Satu surah penuh dituangkan dalam kaligrafi di sini. Bukan main," tambah saya.

Di dalam masih ada satu kaligrafi dari Al Quran lagi: Ayatul Kursyi.

Saya belum pernah tahu itu: bahwa di pintu masuk Taj Mahal ada kutipan Al-quran begitu banyak.

Semua itu menandakan sebuah era bahwa Islam pernah jaya di India.

Waktu tiba di Delhi pun saya ke masjid kuno di ibukota India itu.

Indah di dalam, kumuh di luar.

Lingkungan luar Masjid Jami ini sangat memprihatinkan. Bangunan masjidnya sendiri sangat indah. Dan anggun. Untuk masuk gerbangnya saja harus naik 30 trap.

Di balik gerbang indah itu --antara gerbang dan masjid-- terdapat plaza yang luas dan megah. Plaza itu bisa untuk luberan ketika yang salat mencapai 20.000 --di saat Idul Fitri atau Idhul Adha.

Keindahan masjid ini serupa dengan Taj Mahal. Banyak turis Barat ke masjid ini. Mereka harus mengenakan tambahan baju luaran panjang yang disediakan di teras samping.

Pernah ada bom meledak di masjid ini. Sebagai protes. "Wanita setengah telanjang kok diizinkan masuk ke masjid," begitu kritik ke pihak pengurus masjid.

Sejak itu pengurus menyediakan baju luaran untuk turis wanita.

Tahun pembangunan masjid ini pun juga sama dengan pembangunan Taj Mahal: 1630-an. Yang membangun pun sama: Raja Shah Jahan.

Saya salat Asar di situ. Masih banyak juga pengunjung yang salat di situ.

Tapi lingkungan masjid ini benar-benar berantakan. Halaman yang mestinya luas dan indah itu benar-benar berantakan.

Kolam-kolam air mancur yang berjajar memanjang tidak ada airnya. Rusak. Berdebu. Ditempati kaki lima. Atau orang yang duduk-duduk sambil merokok.

Pedagang asongan memadati depan masjid ini. Serba berantakan. Semrawut. Kumuh.

Saya pun meninggalkan masjid ini dengan sejuta rasa.(Dahlan Iskan)


BERITA TERKAIT