Bobol Dana Bantuan Covid-19 di AS, 2 Hacker Indonesia Ditangkap Polda Jatim | Portal Berita yang menyajikan informasi dan berita terbaru hari ini

Close

Bobol Dana Bantuan Covid-19 di AS, 2 Hacker Indonesia Ditangkap Polda Jatim

  • 15-04-2021
  • Editor :junaedi
  • dibaca :1758
Bobol Dana Bantuan Covid-19 di AS, 2 Hacker Indonesia Ditangkap Polda Jatim Kapolda Jatim, Irjen Pol Nico Afinta menjelaskan kasus dua hacker asal Indonesia yang membobol bansos COVID-19 milik pemerintah Amerika Serikat senilai USD60 juta.(dok.inewtv)

Klikapa.com -Direskrimsus Polda Jatim Polda Jatim menangkap dua orang hacker Indonesia. Mereka ditangkap setelah diketahui  bantuan sosial COVID-19 milik pemerintah Amerika Serikat senilai USD60 juta. Dua pelaku peretas situs AS itu berinisal SFR dan MZMSBP.

Keduanya usai menyebarkan situs palsu hasil retasan situs resmi bantuan COVID-19 milik pemerintah Amerika Serikat. FBI yang langsung datang ke Polda Jatim untuk mengawal kasus tersebut.

Menurut Kapolda Jatim, Irjen Pol Nico Afinta, Modus pelaku adalah membuat situs palsu yang menyerupai situs resmi bantuan sosial milik pemerintah Amerika Serikat. Dalam situs tersebut pelaku mengambil data pribadi dari para korban yang merupakan warga negara Amerika Serikat. 

Melalui data pribadi itulah pelaku mengklaim dana bantuan dari pemerintah Amerika Serikat dan mengambil keuntungan pribadi.

Nico menjelaskan, saat ini polisi masih mendalami dugaan keterlibatan pihak lain termasuk warga negara asing. 

"Mereka membuat kegiatan ini sejak Mei 2020. Mereka membuat 14 website palsu. Lalu disebar dengan cara melalui SMS dengan software SMS blast," kata Nico kepada media Kamis (15/4/2021).

Disebutkan, sebagian besar data yang diambil kedua tersangka secara ilegal itu merupakan data warga negera Amerika Serikat. 

"Ada 30.000 data dari 14 negara bagian yang telah diambil secara ilegal. Tiap orang dapat USD2.000 sehingga total ada USD60 juta," katanya.

Dari tangan tersangka polisi mengamankan barang bukti berupa 3 laptop, foto-foto situs resmi dan palsu. Akibat perbuatannya, pelaku dijerat tentang Undang-Undang Elektronik Jo 55 dengan ancaman hukuman 9 tahun penjara.
 


BERITA TERKAIT