Trump Jadi Sasaran Anak Kandung Konservatif Sendiri | Berita Hari ini

Trump Jadi Sasaran Anak Kandung Konservatif Sendiri

Trump Jadi Sasaran Anak Kandung Konservatif Sendiri

pencitraannya. Saya jadi tahu berita tentang kehebatan Bush itu ternyata dibuat oleh sutradara. Bukan selalu yang senyatanya. Bush benar-benar "habis" di film itu. Pantas kalau pendukung Bush geram.
Pendukung Bush/Republik/konservatif tidak bisa menerima itu. Lalu mendirikan LSM. Namanya Citizens United. Rakyat Bersatu (RB). RB lah yang kemudian menggugat KPU-nya Amerika, mengapa KPU membatasi pengumpulan dana untuk mendukung capres. Sedang orang seperti Moor dengan bendera non politiknya bisa menghancurkan seorang capres.
Proses peradilan Rakyat Bersatu v KPU ini berlangsung lebih tiga tahun. Akhirnya Mahkamah Agung memenangkan gugatan Rakyat Bersatu. Tidak ada lagi batasan untuk menyumbang. Siapa pun boleh. Perorangan, perusahaan atau lembaga apa pun. Berapa pun boleh. Sampai seorang pengusaha media di Chicago menyumbang "Prioritas Amerika" sampai Rp 25 miliar.
Pembatasan, kata putusan itu, melanggar konstitusi Amerika. Terutama melanggar kebebasan individu.
Dari putusan itu lahirlah Super PAC. Yakni PAC yang bebas. Istilah "Super PAC" sebenarnya bukan istilah hukum. Istilah itu dipopulerkan oleh seorang wartawan lewat tulisannya. Lalu menjadi istilah umum.
Dengan demikian pada dasarnya Super PAC lahir dari perut pendukung partai Republik. Hanya saja kini berbalik. Super PAC banyak didirikan mendukung Hillary.
Sebenarnya ada juga beberapa Super PAC yang mendukung Trump. Salah satunya yang jadi berita hangat ini, Super PAC dengan nama "Make America Great Again". Nama itu diambil dari tema utama kampanye Trump. Pendirinya seorang wanita pendukung Trump di Colorado. Ivanka Trump pun diberitakan sempat menyumbang USD 100.000 (Rp 1,3 miliar).
Tapi belakangan Super PAC ini dibubarkan. Oleh sang pendiri. Gara-garanya, Trump sering menyerang keberadaan Super PAC. Bahkan suatu kali Trump keceplosan bilang tidak didukung Super PAC pun tidak pateken.
Mungkin karena dia kaya raya.
Mungkin karena iri, begitu banyak Super PAC yang mendukung Hillary.
Sebenarnya Trump tidak perlu menyembunyikan nama Super PAC tersebut. Publik tahu Super PAC mana yang dimaksud. Yang sudah dapat dana USD 90 juta itu. Ia adalah Super PAC bernama "Prioritas-prioritas Amerika". Pendirinya adalah Bill Burton. Bekas ketua tim pemenangan kembali Obama.
"Prioritas Amerika" lah dulu yang membiayai iklan besar-besaran untuk menyerang Mitt Romney, capres dari partai Republik saat itu. Dan Obama menang.
Iklan yang menyerang Romney itu sederhana. Judulnya "understands". Kisah seorang bapak yang kehilangan pekerjaan. Yakni ketika pabrik baja tempatnya kerja tutup. Bangkrut. Tidak dapat asuransi pula.  Dana pensiun lenyap ditelan kerugian. Istrinya sakit kanker. Lalu meninggal.
Tamat.
Apa hubungannya? Publik tahu perusahaan bangkrut itu bagian dari konglomerasi Bein Capital. Salah satu pendirinya adalah Mitt Romney. Ia juga pernah menjadi CEO grup yang berpusat di Boston itu.
Iklan itu memang sempat  dipersoalkan. Kematian sang istri sebenarnya tidak ada hubungan dengan tutupnya pabrik. Tapi iklan tersebut telah jadi contoh iklan yang sukses.
Kini dengan dana lebih Rp 2,5 triliun,  "Prioritas Amerika" sudah siap menghabisi Trump. Siap membalas serangan apa pun dari lawan Hillary. Jane Fonda, bintang film itu, menyumbang Rp 23 miliar. Terang-terangan. Banyak pula tokoh lainnya.
Memang, menurut aturan, Super PAC tidak boleh ada hubungan dengan yang didukung. Harus independen. Tapi status independen sangat mudah dinyatakan.
Hanya lewat pembuktian.
Bukan kenyataan.
Super PAC akan terus berperan di masa depan. Dari Pemilu ke Pemilu. Kemampuan mengumpulkan dananya bisa lebih besar dari tim resmi partai.
Tapi ada juga yang menyorot, biaya yang dipakai pengurus PAC terlalu besar. Terutama PAC abal-abal. Fasilitas untuk pengurus terlalu mewah, hotel bintang lima sampai sewa pesawat jet kapan saja. Bahkan pernah ada pengurus PAC yang gajinya tidak pantas -saking besarnya. Ada yang membayar  rekanan sampai sekitar Rp 10 miliar. Padahal sang

Berita Terkait

Baca Juga