Udara Kian Sumuk, Ini Kata BMKG | Portal Berita yang menyajikan informasi dan berita terbaru hari ini

Close

Udara Kian Sumuk, Ini Kata BMKG

  • 17-05-2022
  • Editor :junaedi
  • dibaca :711
Udara Kian Sumuk, Ini Kata BMKG Udara kian sumuk terakhir ini. Ini kata BMKG.(dok.halodok)

Klikapa.com -Beberapa hari terakhir masyarakat merasakan udara yang panas, 'Sumuk'. Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) pun mencatt tren kenaikan suhu di wilayah Indonesia barat dan tengah. Tertinggi kenaikan suhu 0,95 derajat celcius per dekade.

Plt. Deputi Klimatologi BMKG Urip Haryoko mengatakan analisis tren kenaikan suhu ini berdasarkan pantauan di 92 Stasiun BMKG dalam kurun 40 tahun terakhir.

"Secara umum tren kenaikan suhu permukaan lebih nyata terjadi di wilayah Indonesia bagian barat dan tengah," kata Urip lewat keterangan tertulis, Jumat (13/5/2022).

Menurut dia,  wilayah Indonesia tren kenaikan suhu terjadi di Pulau Sumatera bagian timur, Pulau Jawa bagian utara, Kalimantan dan Sulawesi bagian utara mengalami tren kenaikan lebih dari 0.3 derajat celcius per dekade.

Sementara peningkatan suhu permukaan tertinggi diketahui terjadi di Stasiun Meteorologi Temindung, Kalimantan Timur dengan suhu 0.95 derajat celcius per dekade.

Sedangkan wilayah yang memiliki kenaikan suhu rendah kata Urip, tercatat di Stasiun Meteorologi Sultan Muhammad Salahuddin, Bima, NTB, dengan kenaikan hanya 0,01 derajat celcius per dekade.

Urip juga melaporkan tren kenaikan suhu yang ada di wilayah Ibu Kota, DKI Jakarta. Menurutnya, kenaikan suhu udara di DKI Jakarta meningkat dengan laju 0.40 sampai 0.47 derajat celcius per dekade.

Lewat analisis ini, Urip menjelaskan suhu udara panas yang terjadi belakangan ini di berbagai wilayah, dipengaruhi oleh faktor klimatologi yang diamplifikasi oleh dinamika atmosfer skala regional dan skala meso.

"Inilah yang menyebabkan udara terkesan menjadi 'lebih sumuk' dan kemudian menimbulkan pertanyaan bahkan keresahan (selain kegerahan) publik," ujar Urip.

Meski demikian, pihaknya mengklaim fenomena panas ini bukan kondisi ekstrem yang membahayakan, seperti gelombang panas atau heatwave.

"Meskipun masyarakat tetap diimbau untuk menghindari kondisi dehidrasi dan tetap menjaga kesehatan," tutupnya.
 


BERITA TERKAIT