Ada Baiknya Mulai Berhati-hati Konsumsi Ikan Nila. Ini Bahayanya

  • 2017-07-04
  • Editor :junaedi
  • dibaca :29580
Ada Baiknya Mulai Berhati-hati Konsumsi Ikan Nila. Ini Bahayanya ikan nila ternya juga banyak risiko yang diakibatkan jika dikonsumsi.(dok.afp)

ANDA Termasuk orang yang gemar makan Ikan nila? Jika benar, makan mulailah berhati-hati saat ini.

Ikan nila memang banyak mengandung kadar lemak, kolesterol, dan kalori yang lebih rendah dibandingkan daging sapi dan babi. Ikan nila juga kaya akan vitamin, mineral, serta asam lemak yang baik untuk kesehatan tubuh.

Namun, tidak semua ikan nila baik untuk dikonsumsi setiap hari. Beberapa ikan nila hasil budidaya, ternyata memiliki risiko kesehatan utama yang patut diwaspadai.

Bahkan, beberapa ahli gizi mengatakan bahwa memakan ikan nila jauh lebih buruk daripada mengkonsumsi daging asap.

Ikan memang bisa menjadi alternatif paling favorit bagi manusia. Setidaknya untuk mendapatkan asupan asam lemak omega 3 yang berguna menurunkan tekanan darah, mengurangi kolesterol dalam aliran darah, dan memperkuat sistem kekebalan tubuh.

Omega 3 juga bisa meminimalisir potensi arthritis, depresi, penyakit jantung, hingga kanker.

Namun, sebuah studi dari Universitas Wake Forest pada 2008 lalu, mengungkapkan ikan nila mengandung lebih banyak omega 6 daripada omega 3 dengan rasio 11 banding 1.

Meski omega 6 juga dibutuhkan tubuh, perbandingan rasio antara omega 6 dan 3 yang baik untuk tubuh adalah 2 sampai 4.

Terlalu banyak asupan omega 6 bisa meningkatkan risiko asma, arthritis, dan kondisi peradangan lain dalam tubuh.

Dikutip dari FoxNews, penelitian tersebut memaparkan bahwa risiko radang dari mengonsumsi hamburger dan bacon babi lebih rendah daripada ikan nila budidaya.


Berdasarkan sejumlah laporan, peternak di China kerap memberi pakan ikan nila budidaya dengan kotoran binatang seperti ayam, bebek, hingga babi.


Dengan kondisi itu, mengonsumsi ikan nila budidaya seperti ini bisa meningkatkan risiko kanker 10 kali lipat daripada nila yang ditangkap di alam liar.

Laporan ini diperkuat dengan penelitian Economic Research Service of the U.S. Department of Agriculture (USDA) pada 2009, yang menemukan bahwa banyak makanan

Berita Terkait

Baca Juga