Agustusan Sepanjang Tahun

Agustusan Sepanjang Tahun

primordial.

Dalam lingkup yang lebih kecil, masyarakat melupakan perbedaan etnis dan agama. Seorang warga Tionghoa, berbaur dengan ratusan warga yang lain dalam aksi jalan sehat di tingkat RW. Anggapan bahwa kelompok ini eksklusif tidak mau membaur dengan warga lain, terbantahkan.

Selain jalan sehat hari Ahad kemarin, mereka juga aktif dalam tirakatan yang digelar malam menjelang 17 Agustus yang sudah menjadi tradisi. Dalam kegiatan kemasyarakat, mereka aktif. Bahkan saat Idul Fitri, mereka yang lebih dulu aktif mendatangi rumah warga muslim untuk mengucapkan selamat hari raya. Bukan itu saja, mereka juga membawa kado.

Ini potret kecil tentang pembauran yang dilakukan oleh kelompok minoritas tapi mengusasi ekonomi mayoritas. Memang harus diakui belum semuanya bisa membaur, masih ada yang menganggap dirinya beda dengan yang lain, entah itu beda karena superior maupun inferior. Masih ada yang menganggap dirinya sebagai warga kelas yang lebih tinggi, sebagai peninggalan penjajah Belanda.

Tapi ada juga yang merasa diri sebagai warga minoritas yang tidak layak berbaur dengan mayoritas. Pada momen Agustusan inilah perasaan itu harus dihapuskan, karena sesungguhnya mereka adalah warga negara Indonesia dengan hak dan kewajiban yang sama.

Sudah banyak contoh, ketika yang minoritas itu mau membaur, pihak mayoritas pasti menerima dengan senang hati. Tidak ada lagi stigma mereka eksklusif, tidak mau membaur pada kegiatan warga dengan alasan kesibukan. Sungguh pemandangan yang indah saat kelompok minoritas itu ikut lari karung atau gebuk bantal dengan warga lain, tidak ada sekat diantara mereka. Seandainya perayaan Agustusan diadakan setiap tahun. 

Berita Terkait

Baca Juga