Pembunuhan Anggota TNI Divif 2 Kostrad Terkuak, Motifnya Pemerasan | Berita Hari ini

Pembunuhan Anggota TNI Divif 2 Kostrad Terkuak, Motifnya Pemerasan

  • 2017-12-27 penulis : Agung Priyo
  • Editor :junaedi
  • dibaca :40454
Pembunuhan Anggota TNI Divif 2 Kostrad Terkuak, Motifnya Pemerasan Mendiang Serma Achmad dalam dokumen foto keluarganya.(istimewa)

MALANG - Kasus pembunuhan terhadap Serma Achmad, anggota TNI dari kesatuan Ba Ton Kom Denma Divif 2 Kostrad, mulai terungkap. Pelakunya sesama anggota TNI yang diketahui bernama Serda Edr. Motif pembunuhannya, pemerasan. Kasus ini masih ditangani Denpom Divif 2 Kostrad Singosari.

Kepala Penerangan Divif 2 Kostrad Singosari, Mayor Inf Bonny Vidri Anggoro,  tidak membatahnya saat dikonfirmasi media terkait pengungkapan kasus pembunuhan ini. Meski ia mengaku belum bisa menjelaskan kasusnya karena masih dalam pemeriksaan Denpom.

"Saat ini kasus masih dalam proses penyelidikan Polisi Militer. Dan kami masih terus berupaya mengembangkan kasus ini. Apabila sudah jelas hasilnya, kami akan sampaikan," ungkap Bonny, Rabu (27/12/2017).

Informasi yang didapat di lapangan, pembunuhan Serma Achmad, bermotif pemerasan. Ceritanya, Sabtu (23/12) korban bersama istrinya Ny NA, berboncengan sepeda motor Honda Beat berangkat dari Asmil Divif 2 Kostrad. Mereka menuju Sumber Waras, Lawang.

Tujuan mereka menemui Serda Edr di tempat kosnya. Namun yang menemui Evander hanya istri Achmad. Sedangkan korban menunggu di depan Indomaret seberang jalan.

Ny Nur Amalia yang bertemu Edr, mereka masuk kamar kos dan menutup pintu. Di dalam kamar, Evander mengajak ngobrol, sembari melepasi pakaiannya.

Saat itulah korban masuk kamar kos sembari mengambil gambar video dan foto, sambil mengatakan kalau Ny NA adalah istrinya. Bukti gambar dan video itu itulah yang kemudian digunakan korban untuk memeras dan menakut-nakuti Edr. Korban meminta uang Rp 50 juta, agar kejadian itu tak sampai dilaporkan ke pimpinannya.

Selanjutnya, korban mengajak Serda Edr, ke lapangan bola Sumber Waras. Sementara NA, pergi lebih dahulu menunggu depan RS Brawijaya Lawang. Di lapangan itu, korban memukul Edr dan mengancam dengan sangkur. Dia minta uang Rp 50 juta diberikan dalam waktu 5 hari.

Saat itu Edr, serta merta meminta maaf , namun tidak dihiraukan korban. Dalam kondisi kalut itulah, Edr merebut

Berita Terkait

Baca Juga