Destinasi Wisata Baru Desaku Menanti untuk Perdayakan Masyarakat Miskin

  • 2018-01-16 penulis : Ira Ravika
  • Editor :junaedi
  • dibaca :1124
Destinasi Wisata Baru Desaku Menanti untuk Perdayakan Masyarakat Miskin Destinasi Wisata Baru dibangun di daerah miskin untuk perdayakan masyarkatnya.

MALANG –Wahana wisata baru disajikan lagi  Pemkot Malang. Namanya Kampung Desaku Menanti. Dibangun Dusun Baran, Desa Tlogowaru, Kecamatan Kedungkandang, wahana wisata baru dilengkapi Flying Fox dan Taman Lampion.

Selain flying fox yang menjadi daya tariknya, ada juga taman cinta lengkap dengan properti bentuk hati di tengahnya. Taman payung yang dipasang di seputar tangga, taman lampion serta hammock (jaring tidur) warna-warni untuk pengunjung yang ingin beristirahat sambil menikmati pemandangan.

Sekretaris Daerah (Sekda) Kota Malang Wasto pun Selasa siang (16/1/2018), juga menjajal Flying Fox itu. Teriakan lepas Wasto saat mencoba flying fox di Kampung Desaku Menanti, sempat terdengat lepas. Flying fox ini membentang dengan ketinggian 15 meter dengan panjang 85 meter.

”Bagus, aku ketumanan (ketagihan). Aku  kepingin rene maneh (aku ingin ke sini lagi),’’ katanya usai membuka taman ini resmi untuk umum.

Wasto juga mengatakan, wahana baru yang Kampung Desaku Menanti ini akan menjadi model Kota Malang untuk mengentaskan kemiskinan secara riil.

Kampung Desaku Menanti merupakan program yang dikembangkan Dinas Sosial Kota Malang. Di mana di kampung ini, Dinas Sosial tak sekadar membina para gelandangan dan pengemis. Tapi juga memberikan tempat tinggal.

”Mereka disediakan tempat tinggal di sini. Melalui program Kampung Desaku Menanti ini, mereka bisa berdaya,’’ kata Kepala Dinas Sosial Kota Malang Sri Wahyuni mendampingi  Wasto.

Dengan fasilitas seperti itu kata  Yuyun panggilan akrabnya, warga yang ada di tempat ini secara langsung akan menikmati kala kawasan ini menjadi destinasi wisata baru. Karena menurut dia, dengan banyaknya wisatawan berkunjung, maka kesejahteraan warga di Kampung Desaku Menanti pun semakin meningkat.

”Sementara ini kami menggandeng Tagana untuk mengelola, sambil memberikan pembinaan kepada warga sekitar. Begitu warga sudah mampu, maka ke depannya akan dikelola warga sendiri,’’ ucapnya.

Destinasi ini katanya sementara gratis. Biaya hanya

Berita Terkait

Baca Juga