Lolos dari Lubang Aorta Dissection (5)

  • 2018-02-13 penulis : dahan iskan
  • Editor :Rista
  • dibaca :1690
Lolos dari Lubang Aorta Dissection (5) Dahlan Iskan dalam perawatan di rumah sakit

Perintah Tiba-tiba: Masuk ICU Dulu

Robert Lai menjemput saya di bandara Changi. Meski duduk paling depan saya menjadi penumpang terakhir yang keluar dari bandara. Ini karena saya tidak bisa berjalan cepat.

Bahkan saat keluar dari pintu pesawat, di dalam lorong garba rata, saya harus berhenti tiga kali. Posisi garba ratanya agak naik. Maklum pesawat yang saya naiki jenis 737 yang lebih rendah dari posisi terminal.

Baru sekali ini saya merasakan beratnya nafas. Jalan beberapa langkah harus berhenti. Istri saya memang melarang saya pergi sendirian dalam kondisi sakit.

Tapi saya ngotot tidak perlu ada yang menemani. Toh begitu keluar bandara sudah ada Robert Lai. Yang mampu mengurus semua keperluan. Pendamping saya nanti hanya akan menambah beban. Terutama beban untuk Robert.

Sepanjang jalan di terminal menuju imigrasi saya terus disalib penumpang lain. Untungnya banyak yang minta foto bersama. Lumayan. Saya bisa berhenti lagi dan berhenti lagi dengan alasan lagi berpose. Padahal sebenarnya saya memang ingin berhenti.

Saya paksakan tersenyum di depan kamera. Mereka tidak tahu tersiksanya dada ini.

Robert sudah menunggu di luar. Saat menuju tempat parkir mobilnya, saya tertinggal jauh di belakangnya. “Dengan jalan seperti ini kamu terlihat begitu tuanya,” katanya berseloroh.

Dia tidak tahu saya benar-benar menderita. “Benar-benar sakit ya?” tanyanya. Lalu merebut tas saya untuk dia bawa. Biasanya saya memang berjalan lebih cepat dari Robert.

Kami langsung menuju rumah sakit Katolik Mount Alvernia. Dokter Wong dan anaknya, dokter Mark Wong, sudah menunggu.

Keduanya ahli pencernaan. Dokter langsung melakukan pemeriksaan. Dan memberitahukan bahwa besok pagi saya harus siap menjalani indoskopi. Saya ceritakan hasil pemeriksaan di Madinah: jantung saya prima.

KOMENTAR ANDA

Berita Terkait

Baca Juga