Pengukur Suhu, Alat Wajib Baru

Pengukur Suhu, Alat Wajib Baru Dahlan Iskan dan alat pengukur suhu badan yang selalu ada di tangannya.(dok.dis way)

penting tidak naik lagi. Mungkin memang diperlukan waktu yang lebih panjang untuk menormalkan kerusakan saluran darah utama saya yang begitu panjang.

Kini ke mana-mana saya bawa pengukur suhu badan. Toh sudah ada yang modern. Seukuran alat cukur jenggot. Tinggal tembakkan sinar ke arah kening. Bisa saya lakukan sendiri. Hanya baterainya cepat habis.

Cucu-cucu saya sering menjadikannya mainan tembak-tembakan sinar.

Banyak yang bertanya apakah stent yang dipasang di pembuluh darah saya itu perlu perawatan? Bisa dicopot? Untuk dibersihkan, misalnya?

Jawabnya: tidak. Rangkaian stent itu permanen menyatu dengan dinding saluran darah. Karena itu bahannya dipilih yang cocok untuk itu.

Tentu stent yang dirangkai menjadi seperti selang sepanjang setengah meter tersebut tetap dianggap benda asing. Yang tidak boleh dimasukkan tubuh. Yang harus ditolak oleh sistem tubuh.

Tapi saya kan sudah punya benda asing lainnya di tubuh saya. Sejak 10 atau 11 tahun lalu. Yakni hati baru saya yang aslinya hati milik pemuda Tianjin yang meninggal mendadak.

Setiap hari saya minum obat untuk “memaksa” tubuh saya mau menerima benda asing itu. Jadi obat tersebut sekalian untuk benda asing baru yang berupa selang rangkaian stent ini.

Memang tidak perlu ada pemeliharaan untuk rangkaian stent itu. Tapi juga tidak boleh sembrono. Misalnya: saya harus disiplin minum obat pengencer darah.

Mula-mula saya menolak minum obat ini. Darah saya menjadi sangat encer. Setiap waktu selesai pengambilan darah perlu menunggu lama. Darah masih keluar terus dari bekas jarum.

Perawat tidak bisa segera menempelkan kapas dan membalutnya dengan plester.

Tapi dokter Benjamin Chua memberi penjelasan bagus. Begini: kalau darah saya terlalu kental, apalagi kalau banyak kolesterolnya, dikhawatirkan ada lemak yang menempel ke salah satu stent itu.

Lemak itu, atau apa pun yang bisa menempel, lantas mengeras. Suatu saat benda kecil yang sudah mengeras itu bisa lepas dari stent. Ikut darah. Beredar ke seluruh tubuh.

Lewat jantung. Atau otak. Lalu menyumbat di situ. Kalau menyumbatnya di jantung bisa mati. Kalau nyangkutnya di otak bisa stroke.

Wah….ini serius. Bukan sekedar pengencer darah untuk meringankan beban jantung.

Sejak ada penjelasan seperti itu saya tawakkal: ada satu obat lagi yang harus secara disiplin saya minum setiap hari.

Hanya saja saya berpesan pada istri: jangan pernah benturkan kepala saya ke tembok.

Penjelasan ini berlaku juga untuk orang yang di jantungnya sudah dipasangi stent. Atau orang awam menyebutnya dipasangi ring. Istri mereka juga tidak boleh membenturkan kepala suami ke tembok.

Mereka juga harus minum obat pengencer darah. Takut ada lemak yang menempel di ring itu. Mengeras. Dan lepas.

Itulah sebabnya orang yang sudah dipasangi ring harus jaga makanan. Jangan yang berlemak.

Saya lebih berat dari itu. Orang pasang ring di jantungnya biasanya hanya satu atau dua. Atau paling banyak lima. Atau berapalah.

Sedang ring yang dipasang di saluran darah utama saya ini jumlahnya 570!

Dirangkai menjadi seperti selang dengan diameter hampir 4 cm. Dengan demikian kemungkinan ada benda yang menempel di salah satunya tentu 570 kali lebih banyak dari yang hanya pasang satu ring.

Berita Terkait

Baca Juga