Barnes Tertarik Sistem Moratorium SMU di Jatim | Berita Hari ini

Barnes Tertarik Sistem Moratorium SMU di Jatim

Barnes Tertarik Sistem Moratorium SMU di Jatim SERIUS: Konjen Barnes mendengar penjelasan Gubernur Soekarwo soal moratorium SMU di Jatim. (HARY SANTOSO/MALANGPOST)

SURABAYA – Chris Barnes, Konjen Australia di Jatim tertarik sistem moratorium  SMU (Sekolah Menengan Umum) yang diterapkan Pemprov Jatim. Sebab, cara itu dianggap menjadi modal lulusan sekolah mendapat lapangan pekerjaan.

Hal di atas terungkap dipertemuan antara Gubernur Jatim Soekarwo dengan Tim INOVASI Untuk Anak Sekolah, Kemitraan Indonesia-Australia. Tidak itu saja. Barnes tampak juga serius mendengar paparan Pakde Karwo soal pengelolaan pendidikan di Jatim.

‘’Sejak tahun 2015, Jatim menerapkan moratorium SMU. Jika sebelumnya jumlah SMU lebih banyak dibanding SMK (Sekolah Menengah Kejuruan), sekarang tidak lagi,’’ papar Pakde Karwo di ruang kerjanya di Gedung Grahadi, Selasa siang.

Dikatakan Pakde, kini komposisi SMK di Jatim menjadi 70 persen dibanding SMU yang hanya 30 persen. Semakin banyak SMK, maka semakin banyak lulusan yang siap diterima bekerja sesuai bidangnya.

‘’SMK memberi para siswa ketrampilan. Sehingga saat lulus dapat langsung diterima di dunia kerja. Berbeda dengan SMU,’’ jelas Pakde Karwo.

Saat ini, jumlah SMK 1.771 buah. Di mana 40 persen diantaranya telah terakreditasi. Dan 291 SMK diantaranya berstandard internasional. Fakultas-fakultas teknik juga diposisikan sebagai  pengampu.

Ditambahkan Pakde, layanan posyandu parenting education tercatat 12 ribu dari 8.251 desa/kelurahan di Jatim. Dengan parenting education diharapkan orangtua makin paham akan asupan gizi.

‘’Data yang ada, hanya 22 persen kondisi gizi buruk terjadi karena miskin. Selebihnya, karena salah asupan. Pendekatan budaya juga harus menjadi stategi utama dalam pencapaian,’’ pungkasnya. (has)

Berita Terkait

Baca Juga