Kasek SMPN Kromengan Terjerat Kasus Asusila. seperti Ini Komentar Para Gurunya

  • 2018-03-08 penulis : Agung Priyo
  • Editor :junaedi
  • dibaca :6841
Kasek SMPN Kromengan Terjerat Kasus Asusila. seperti Ini Komentar Para Gurunya Kasek ditahan polisi, SMPN Kromengan Kabupaten Malang mengaku yang bersangkutan sudah tidak menjabat lagi di sekolah ini.

MALANG -Kepala sekolah (Kasek) SMPN Kromengan, Kabupaten Malang Drs Krisyanto Latif yang menjadi tersangka kasus pencabulan muridnya, ternyata tidak diakui sebagai kepala sekolah itu. Lebih dari itu, keenam siswi yang melaporkan menjadi korban kasus ini tidak dikenali sekolah ini.


“Kami tahu berita pencabulan itu dari koran. Siapa saja keenam korban pencabulan itu, juga tidak tahu si A dan si B. Apakah memang benar mereka siswi sini,” ujar Nur Kholik, Humas di SMP N Kromengan, Kamis (8/3/2018).

Pernyataan yang diberikan kepada Malang Post itu, juga diamini sejumlah guru sekolah ini.  Hampir semua guru mengaku tidak tahu dengan kejadian pencabulan itu. Termasuk siapa saja enam siswi yang menjadi korban asusila.

Entah itu untuk menutupi atau tidak, tidak kebenarannya, tidak didapat kepastiannya.

Nur Kholik malah menyebut yang disebut-sebut Kasek cabul di sekolah ini, tidak menjabat lagi sebagai Kepala SMP Kromengan. Posisinya telah diganti oleh Harnowo, sejak 20 Januari 2018. Krisyanto Latif disebutkan telah ditunjuk sebagai Kasek devinitif di salah satu SMP di Kecamatan Sumbermanjing Wetan.

“Yang bersangkutan (Krisyanto Latif) itu mantan Kasek sini. Sudah tidak lagi menjabat sejak sekitar dua bulan lalu. Sekarang menjadi Kepala Sekolah di salah satu SMP di wilayah Kecamatan Sumbermaning Wetan,” terangnya.

Saat menjabat sebagai Kepala SMP di Kromengan pun, Krisyanto disebutkan sebentar saja, sekitar tiga bulan. Itupun hanya sebagai pelaksana teknis (Plt). Sebelumnya Krisyanto guru pengajar salah satu SMP di Kecamatan Ampelgading.

“Dia (Krisyanto) menjadi Plt Kepala Sekolah menggantikan Suwatris, yang sebelumnya meninggal dunia. Setahu saya, baru kali pertama ini menjabat sebagai Kepala Sekolah,” urainya.

Meski begitu Edi Supriyono, guru BK di sekolah ini memberi keterangan yang berbeda. Edi membenarkan ada enam siswi sekolah ini menjadi korban pelecehan seks. Menurutnya, pihak sekolah sudah melakukan pendampingan psikolog terhadap mereka.

“Saya bersama dengan tim dari Dinas Pendidikan Kabupaten

Berita Terkait