Polri Bekuk Pembobol Bank Singapura Senilai USD 1,8 Juta

  • 2018-03-09 penulis : bagus
  • dibaca :1389
Polri Bekuk Pembobol  Bank Singapura Senilai USD 1,8 Juta ilustrasi

JAKARTA—Polri terus membantu pengungkapan kejahatan kelas internasional. Setelah membantu penyitaan kapal super mewah senilai USD 250 juta, Jumat (9/3/2018) Direktorat Tindak Pidana Ekonomi Khusus (Dittipideksus) Bareskrim mengungkap mafia pembobol bank DBS Singapura yang berhasil menggondol USD 1,8 juta atau senilai Rp 24 miliar.

Direktur Dittipideksus Bareskrim Brigjen Agung Setya menjelaskan, sindikat pembobol bank internasional tersebut bekerja dengan modus melakukan peretasan terhadap email milik nasabah bank DBS. Setelah diretas, pelaku membuat email palsu untuk memerintahkan bank DBS mengirim uang ke sejumlah rekening.

”Perintah ke bank melalui email itu direspon bank, karena tidak mengetahui kalau email itu palsu,” paparnya.

Uang senilai USD 1,8 juta itu kemudian dikirim ke tiga nomor rekening. Yang salah satunya merupakan rekening Indonesia. Namun, dua rekening lainnya berada di Tiongkok dan Taiwan. ”Untuk yang di Indonesia, telah ditangkap BFH di Kepala Gading, Serpong, Karawaci,” terang jenderal berbintang satu tersebut.

Menurutnya, BFH bekerjasama dengan suaminya yang berkewarganegaraan Nigeria melakukan kejahatan tersebut. Untuk BFH berperan sebagai penampung dari uang hasil pembobolan bank.

”Caranya dengan membuat rekening dengan KTP palsu,” jelasnya.

Uang hasil kejahatan itu diambil secara bertahap sebanyak 22 kali. Uang itu digunakan untuk pasangan suami istri ini dan berbagai kegiatannya.

”Sayangnya, suaminya MCI ini masih dalam pengejaran,” tuturnya ditemui di kantornya kemarin.

Menurutnya, kemungkinan besar sindikat ini juga melakukan berbagai pembobolan lain. sebab, setelah diperiksa jejak rekeningnya memang kerap kali mendapatkan transfer uang dari luar negeri.

”Untuk itu kami akan selidiki lebih dalam, apakah ada kejahatan lain yang dilakukan,” paparnya.


Total ada 17 rekening yang dimiliki oleh pelaku dari berbagai bank di Indonesia. tentunya, hampir semuanya menggunakan identitas palsu. ”Kami lihat ada apa di rekening lainnya,” tuturnya.

Dia menjelaskan, untuk bisa mendapatkan uang hasil kejahatannya, penyidik menjerat dengan tindak pidana pencucian uang (TPPU). Sementara baru ada Rp 40 juta

Berita Terkait

Baca Juga