Kampaye Delete Akun Facebook Kian Santer, Ini Penyebabnya

  • 2018-03-21
  • Editor :junaedi
  • dibaca :1406
Kampaye Delete Akun Facebook Kian Santer, Ini Penyebabnya ilustrasi

JAKARTA-Kampanye hapus akun Facebook, #DeleteFacebook di media sosial makin nyaring saja. Menyusul isu penyalahgunaan data dari 50 juta pengguna FB oleh Cambridge Analytica (CA).

Seruan penghapusan secara permanen itu salah satunya bahkan datang dari pendiri WhatsApp, Brian Acton. Lewat akun Twitter pribadinya, Brian yang hengkang dari WhatsApp sejak akhir 2017 lalu, mencuitkan saat yang tepat untuk menghapus akun Facebook.

Momentum krisis yang tengah melanda perusahaan yang didirikan oleh Mark Zuckerberg ini turut memengaruhi nilai saham perusahaan. Dalam dua hari terakhir, saham Facebook merosot hingga lebih dari 9 persen dan valuasinya menjadi nyaris US$50 miliar.

Pemerintah AS menduga Facebook melakukan pelanggaran kesepakatan terkait keamanan data pengguna. Hal ini menyusul laporan lembaga riset Global Science Research yang mengumpulkan informasi lebih dari 50 juta pengguna Facebook dan menyerahkannya ke tangan Cambridge Analytica.

Di samping itu, pemerintah Inggris juga dikabarkan akan menempuh langkah serupa. Zuckerberg dilaporkan akan menempuh jalur investigasi pemilahan hoaks dan berita palsu.

CA diketahui mengumpulkan data mulai dari identitas pengguna, jaringan pertemanan, hingga jumlah 'like' pengguna Facebook. Data-data ini disebut untuk memetakan kepribadian berdasarkan apa yang orang sukai untuk menarget audiens dengan iklan digital.


The New York Times menuliskan periset dari CA pada 2014 meminta pengguna untuk melakukan survei kepribadian. Tak hanya itu, pengguna pun diminta untuk mendownload aplikasi yang menghapus beberapa informasi pribadi dari profil mereka dan profil teman mereka.


Pada saat itu, aktivitas tersebut yang diizinkan Facebook. Namun, saat ini sudah dilarang. Sebelumnya, teknik serupa telah dikembangkan oleh Pusat Psikometrik Universitas Cambridge.

Hingga berita ini diturunkan, pihak Facebook belum mengeluarkan pernyataan baik berupa sanggahan ataupun mengakui ada pembobolan tersebut. Keberadaan Mark Zuckerberg dan Sheryl Sandberg pun hingga kini masih menjadi teka-teki untuk menjawab krisis yang

Berita Terkait

Baca Juga