Bangkit Setelah Gagal di Dolly

  • 2018-04-11
  • Editor :husnun
  • dibaca :2048
Bangkit Setelah Gagal di  Dolly Dalu saat berkunjung ke rumah Dahlan Iskan

libur bagi saya: libur senam.

Saya kaget. Dalu membawa rombongan enam orang. Salah satunya wanita berjilbab. Mereka adalah para junior Dalu di ITS, Unair dan UIN Sunan Ampel.

Status mereka baru lulus kuliah. Ada akutansi, dokter hewan, teknik kimia dan fakultas dakwah. Umur mereka antara 22 dan 23 tahun. Hanya Dalu yang 28 tahun.

Dua tahun saya tidak ketemu Dalu. Tampilannya tidak berubah. Kurus, gelap, menggebu-gebu dan penuh idealisme.

“Apa kabar Doly?,” tanya saya.

“Itulah Pak, mengapa saya ingin ketemu,” jawabnya.

Dalu lantas menceritakan ruwetnya birokrasi di Doly. Kehadiran orang seperti Dalu bisa saja dianggap pesaing.

Bukan partner.
Saya sudah menyangka. Tapi biarlah aktivis-idealis seperti Dalu mengalaminya sendiri. Mumpung masih belia.

Benturan itu akan memperkaya jiwanya. Sekalian ujian. Apakah idealismenya karbitan.

Dalu ternyata segera bangkit. Itulah baiknya kejatuhan terjadi di saat anak masih muda. Mudah bangkit. Gampang “move on”.

Setelah dua tahun tidak bertemu ternyata Dalu bukan karbit. Dalu, dan teman-teman mudanya itu sudah banting stir. Membuat start-up company.

Bidang garapnya masih sarat idealisme. Tapi sudah lebih memiliki roh. Sudah memiliki fondasi. Untuk kelak bisa berkembang. Ke samping maupun ke atas.

Inilah jenis start-up yang berpijak ke bumi lokal tapi siap menjunjung langit nasional. (DIS/BERSAMBUNG BESOK)

Berita Terkait

Baca Juga