Mitsubishi dan Toyota 'Berebut' Pengaruh Era Mobil Listrik Indonesia

  • 2018-07-04
  • Editor :junaedi
  • dibaca :2660
Mitsubishi dan Toyota 'Berebut' Pengaruh Era Mobil Listrik Indonesia Mobil hybrid Toyota tiba di kantor Kementerian Perindustrian RI, Jakarta.(dok.cnn indonesia)

JAKARTA-Mitsubishi dan Toyota sama-sama telah menyatakan komitmennya untuk mengurangi polusi udara di Indonesia. Pabrikan asal Jepang inipun  bersaing mengirimkan  mobil-mobil ramah lingkungan mereka ke Kementrian Perindustrian untuk keperluan riset.

Kedua manufaktur  ini berharap, mobil-mobil itu bisa dikembangkan dengan sejumlah pihak dengan harapan dengan harapan menjadi pintu masuk era mobil listrik di tanah air.

Namun Menteri Perindustrian Republik Indonesia Airlangga Hartarto, menjelaskan ada perbedaan penelitian yang dilakukan antara Mitsubishi dan Toyota.

"Mitsubishi kemarin kami bicara studi stakeholder, kementrian, itu dari ristek dari fiskal, kementrian keuangan, lingkungan hidup, perhubungan, nah kalau sekarang dengan perguruan tinggi," kata Airlangga di Jakarta, Selasa (4/7).

Dalam kerjasama baru ini Toyota menghibahkan sebanyak 18 kendaraan yang terdiri dari enam unit Toyota Prius hybrid, enam unit Toyota Prius Prime (plug-in hybrid), dan enam unit Corolla Altis bermesin konvensional. 

Selain itu Toyota juga membangun enam unit stasiun pengisian level dua (4 jam pengisian, 3.500 watt) serta menyediakan asistensi teknik dalam kegiatan penelitian dan studi komprehensif kendaraan elektrifikasi.

Sementara bersama Mitsubishi, hibah juga diterima Kemenperin berupa 10 unit kendaraan listrik meliputi delapan unit Mitsubishi Outlander PHEV (plug-in hybrid electric vehicle) dan dua unit mobil listrik i-MIEV. 

Namun, meski sudah lebih dulu melakukan riset, Kemenperin hingga kini belum membuka hasil dari kerjasamanya bersama Mitsubishi yang sudah dilakukan sejak Februari 2018.

Airlangga belum bisa mengungkapkan kapan regulasi kendaraan rendah emisi karbon (LCEV) resmi diumumkan. Ketua Umum Partai Golkar itu hanya menjanjikan bahwa regulasi tersebut bakal diterbitkan tahun ini. 

"Hanya hasil aja, kami masih studi, studi ini harus komprehensif antara stakeholder pemerintah dan yang di perguruan tinggi," ujar Airlangga.

Airlangga juga berharap tiga bulan ke depan bisa menghasilkan studi di kemeterian terkait itu dengan lingkungan hidup.

''Studi dilakukan perhubungan itu terkait laik darat, dan studi itu juga merubah beberapa fitur seperti misalnya plug-in hybrid

Berita Terkait

Baca Juga