Nilai Rupiah Menukik Tajam ke 14.545/USD

Nilai Rupiah Menukik Tajam ke 14.545/USD Ilustrasi : Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (USD)

MALANG - Nilai tukar Rupiah kembali terpuruk hingga level terendah setelah 15 tahun terakhir. Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS nampaknya belum menunjukkan pemulihan. Hingga Sabtu (21/7), nilai tukar rupiah menembus Rp 14.545 per dolar AS. Pelemahan nilai tukar rupiah ini salah satunya disebabkan, Bank Indonesia (BI) tetap mempertahankan Reverse Repo Rate atau suku bunga kebijakan resmi sebesar 5,25 persen.


Kepala Perwakilan BI Malang, Dudi Herawadi mengatakan pihaknya tetap mempertahankan Reverse Repo Rate sebagai upaya mempertahankan daya tarik pasar keuangan domestik di tengah ketidakpastian pasar keuangan global yang saat ini masih tinggi. Sehingga diyakini bisa menjaga stabilitas nilai tukar rupiah. Selain itu, pelonggaran kebijakan makro prudensial juga dapat meningkatkan fleksibilitas manajemen likuiditas dan intermediasi perbankan bagi pertumbuhan ekonomi.
“Selain itu, Bank Indonesia juga meningkatkan koordinasi dengan pemerintah dan otoritas terkait untuk menjaga stabilitas dan implementasi reformasi struktural untuk menurunkan defisit transaksi berjalan, termasuk peningkatan devisa pariwisata dan pembiayaan infrastruktur oleh swasta” ungkapnya.


Pelemahan nilai rupiah pada pertengahan Juli 2018 ini, ungkap Dudi, menjadi yang terendah dibandingkan negara berkembang lainnya, seperti Filiphina, India, Afrika Selatan, Brazil dan Turki per level akhir 2017 di angka 5,81 persen. Dengan pelemahan rupiah kali ini, BI akan terus mewaspadai resiko ketidakpastian pasar keuangan global dengan tetap melakukan langkah-langkah stabilisasi nilai tukar sesuai nilai fundamentalnya.
“Kami juga akan menjaga bekerjanya mekanisme pasar yang didukung upaya-upaya pengembangan pasar keuangan yang ditopang oleh strategi intervensi ganda dan strategi operasi moneter,” ujar Dudi.


Per triwulan II tahun 2018, tambah Dudi, diperkirakan keadaan ekonomi Indonesia masih tetap baik dengan didukung oleh permintaan domestik yang tetap kuat. Pertumbuhan konsumsi rumah tangga diperkirakan terjaga karena didukung oleh stimulus fiskal, perbaikan pendapatan, inflasi yang terjaga, serta kenaikan keyakinan

Berita Terkait

Baca Juga