Nilai Rupiah Menukik Tajam ke 14.545/USD

Nilai Rupiah Menukik Tajam ke 14.545/USD Ilustrasi : Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (USD)

konsumen menengah atas. Dari segi investasi, diperkirakan tetap kuat. Sebab tidak hanya didukung oleh proyek infrastruktur, tetapi juga oleh proyek non infrastruktur, baik di investasi bangunan maupun di investasi non bangunan.
“Kuatnya permintaan domestik mendorong kenaikan pertumbuhan impor, khususnya impor barang modal seperti alat angkut, mesin, peralatan dan suku cadang. Sementara itu, pertumbuhan ekspor terindikasi tidak sekuat prakiraan dipengaruhi tren harga komoditas global yang menurun,” pungkasnya.


Pakar ekonomi Universitas Negeri Malang (UM), Dr. Imam Mukhlis, SE, M.Si mengatakan, melemahnya nilai tukar rupiah terhadap USD akan memberikan dampak luar biasa terhadap Indonesia. Kondisi ini bisa menyebabkan semakin menurunnya daya beli masyarakat. Pasalnya menguatnya USD atas rupiah akan menimbulkan semakin tingginya harga barang impor.
Melemahnya rupiah juga akan membebani biaya produksi produsen terutama bahan baku dari luar negeri yang dibeli dengan dolar. Sehingga mau atau tidak mau harus meningkatkan harga produk.


Lebih lanjut Mukhlis mengungkapkan, apabila melemahnya nilai tukar rupiah terhadap USD tidak segera dikembalikan dengan baik maka akan cenderung mengarah ke inflasi. “Ketika mencapai angka Rp 13 ribu atau Rp 14 ribu ini masih bisa diterima oleh sebagian besar masyarakat kita.  Namun ketika nilai tukar menembus angka Rp 14.545 ini melebihi psikologis manusia,” ujar Mukhlis.
Ia melanjutkan, sejauh ini perekonomian Indonesia sudah cukup bagus. Namun dalam konteks ekonomi makro internasional sedang mengalami turbulensi. Kondisi ini disebabkan lantaran menjelang akhir tahun banyak perusahaan yang membutuhkan dolar AS untuk membayar  utang sehingga menyebabkan permintaan akan dolar meningkat.  “Dengan kata lain permintaan dolar melebihi kapasitas yang ada di pasar. Itu yang menyebabkan harga dolar AS semakin tinggi,” terangnya.
Disisi lain, meningkatnya harga dolar AS juga tidak terlepas dari kebijakan Amerika Serikat yang ingin menguatkan perekonomian dalam negerinya. Sehingga banyak penanam modal di Indonesia yang berasal dari Amerika akan kembali ditarik ke negara asalnya.


Kebijakan itulah yang menyebabkan banyaknya penanam modal dari luar negeri khususnya Amerika yang mulanya bersikap positif menanam modal sebesar-besarnya berbalik arah dan mengurungkan niatnya. Sehingga akan terjadi pergerakan arus modal yang kembali ke Amerika Serikat.
“Dan ini sebetulnya menjadi otoritas Bank Indonesia (BI) yang memiliki kebijakan untuk menjaga stabilitas kurs dalam waktu yang ditetapkan,” paparnya.
Lebih lanjut ia mengatakan, kebijakan BI ini dalam rangka untuk menahan kenaikan dalan kurs misalnya berupa investasi dalam pasar kurs mata uang asing. Sedangkan upaya pencegahan dari masyarakat supaya tidak semakin melemah nilai rupiah adalah dengan mengurangi barang-barang impor yang tidak penting.


Disisi lain pemerintah dan BI juga harus mengendalikan inflasi supaya daya beli masyarakat tidak semakin menurun. Biasanya mendekati akhir tahun inflasi semakin meningkat. Apabila dibiarkan hal tersebut sangat berbahaya dan mengancam kesejahteraan masyarakat.
“Dan dampak dari meningkatnya nilai dolar terhadap rupiah sudah kita alami seperti mahalnya harga telur dan ayam. Karena banyaknya pakan ternak yang diimpor dari luar negeri, tidak menutup kemungkinanan akan disusul menaiknya harga komoditi lain,” pungas Mukhlis. (van)

Berita Terkait

Baca Juga