Kekeringan Ancam Sejumlah Wilayah di Indonesia | Berita Terbaru Hari ini

Close

Kekeringan Ancam Sejumlah Wilayah di Indonesia

  • 2018-07-24 penulis : Goly Suyono
  • Editor :goly
  • dibaca :9230
Kekeringan Ancam Sejumlah Wilayah di Indonesia Ilustrasi Sawah kekeringan

JAKARTA -   Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) sebelumnya memprediksikan puncak musim kemarau akan terjadi pada Agustus dan September 2018. Dan, saat ini sebagian besar wilayah Indonesia telah memasuki musim kemarau. Sejauh ini BMKG memperkirakan musim kemarau normal dan tidak dipengaruhi El Nino yang menyebabkan kekeringan parah seperti pada 2015.


Deputi Bidang Klimatologi BMKG Herizal mengatakan musim kemarau di Indonesia sangat dipengaruhi oleh Monsun Australia.
"Untuk wilayah Indonesia yang paling berpengaruh menyebabkan musim kemarau adalah angin Monsun Australia atau orang sering menyebutnya angin timuran," kata Herizal , Senin (23/7).
Ia memaparkan saat matahari berada di utara equator, yaitu pada April, Mei, Juni, Juli, dan Agustus, maka wilayah di sebelah utara equator memiliki tekanan lebih rendah daripada wilayah selatan equator.


Akibat dari peristiwa tersebut, maka angin akan bergerak dari wilayah selatan equator, yaitu Australia menuju utara (Asia). Angin ini sering dikenal dengan nama angin Monsun Australia.
Angin timuran itu membawa massa udara yang bersifat kering dan dingin sehingga wilayah di Indonesia mengalami musim kemarau.


"Musim kemarau bukan berarti tidak ada hujan sama sekali. Di awal dan menjelang akhir musim kemarau biasanya masih ada cukup hujan, namun kalau diukur dalam sebulan jumlahnya kurang dari 150 mm," katanya.
Puncak musim kemarau adalah, bulan di mana hujan yang turun paling minimum, sering nol mm atau dalam satu bulan tidak ada hujan sama sekali.


Suatu daerah dinyatakan mengalami musim kemarau ekstrem jika mengalami Hari Tanpa Hujan (HTH) lebih dari 60 hari. Seperti di Sape, Nusa Tenggara Barat, tidak mengalami hujan selama 112 hari disusul Wulandoni NTT selama 103 hari, Bali 102 hari, Kawah Ijen Jawa Timur 101 hari, Bangsri Jawa Tengah 92 hari, Daerah Istimewa Yogyakarta tepatnya di Lendah dan Srandakan selama


BERITA TERKAIT

close