Napak Tilas Jejak Raden Trunojoyo di kabupaten Malang | Berita Hari ini

Napak Tilas Jejak Raden Trunojoyo di kabupaten Malang

  • 2018-09-08 penulis : rosi
  • dibaca :12103
Napak Tilas Jejak Raden Trunojoyo di kabupaten Malang Prasasti Dermo di wilayah kecamatan Dau kabupaten Malang

tapi ditutup,” papar pria kelahiran Magetan itu.


Setelah tahun 1918, Suratno mengungkapkan aris Jetis, aris Jetak, dan aris Sengkaling karena kesepakatan ketiga pemimpin kemudian mengintegrasikan diri menjadi satu sebagai mulyo agung yang artinya “cita-cita yang mulya”. Mulyo Agung,  kemudian dipimpin oleh Mbah Rus Karyo Tuno dengan pertimbangan sebagai putra Aris dan keilmuannya yang tinggi.
“Awalnya, krajan ibu kota desa berada di Dermo. Kemudian sampai pada 1991 pindah ke Sengkaling hingga kini,” imbuh pria yang menuliskan sejarahnya dalam buku apa dan mengapa kampung siman.

 

Tradisi Malam Satu Suro
TAK mengherankan jika banyak jejak sejarah yang ditemukan di dusun Dermo sebagai muasal Kampung Siman. Setelah 2007, ulasan sedikit demi sedikit desa Mulyoagung akhirnya terkuak, oleh Drs Suratno MSi dibantu sesepuh desa di sana. Tinggal di kota Malang sejak 1983, Suratno bertemu dengan sesepuh yakni mbah Sampe.


Dimulai dari Mbah Sampe yang mendirikan pondasi rumah sekitar tahun 1955 di dusun Dermo. Sebelum dibangun rumahnya, lahan tersebut adalah perkebunan pisang dan tebu. Terkaget karena di bawah pondasi rumahnya ditemukan oleh mbah Sampe kepala manusia. Dia pun belum memahami dalam makna itu.
“Saya mendapat pesan lewat mimpi, di area pekarangan rumah saya adalah taman kaputren (taman permaisuri) pada masa kerajaan saat itu,” beber mbah Sampe.


Setelah mencari-cari makna itu dalam waktu yang cukup lama, mbah Sampe akhirnya mendapat petunjuk dari para leluhur. Dia bersama Suratno membuat petilasan Mbah Siman, Mbah Jiteng, dan Tumenggung Joyo Ningrat di pekarangan rumahnya. Lantas setelah itu, mbah Sampi mendapat mimpi kembali dengan pesan dari leluhur untuk tidak melupakan sejarah.
“Saya mendapati pesan untuk sabar, sareh, sumereh, dan nerimo. Kamu masih ada di alam dunia, jangan suka membedakan keyakinan, suku, agama. Tanamkan itu pada sesamamu,” ungkap pria kelahiran 1939 itu.


Hingga kini, warga setempat setiap malam satu suro melakukan syukuran dan doa bersama untuk para leluhur. Mbah Sampe mendapat pesan, Malang raya nantinya akan menjadi barometer Indonesia.

Watu Item Jadi Bukti Sejarah
Tinggal berdempetan dengan rumah mbah Sampe, Drs Suratno MSi tak menyangka juga mendapati pesan leluhur tersendiri. Di depan rumahnya, dia menemukan tiga batu hitam atau dalam bahasa Jawanya adalah watu item sebagai tanda bukti Ki Jiteng.


Dia menyebut watu item entenana kamambange watu item, hal ini dimaksudkan seperti cara watu item kamambang (tiba-tiba muncul). Misteri ini dimaknai menguak desa Mulyoagung perlu proses yang panjang dan menunggu garis Maha Kuasa.
“Kemunculan watu item itu, saat dia memiliki ayamnya yang bertelur di depan rumah, batu itu muncul di tanah sesepuhnya yang disebut mbah Candra. Saya kemudian menyimpannya sebagai bukti sejarah,” terang pria kelahiran 1958 itu.


Ki Jiteng memiliki filosofi hidup yang luhur yakni ayo podo sesanti mugiya lestari kang kaesti, mugiyo widodo kang sinedya, mugiyo rahayu kang winengku, sapa kang nandur bakal ngundhuh, sapa kang nyilih kudu balekake, ala ketara, becik ketitik, sabegja-begjane wongkang lali isih begja wongkang eling lan waspada.


Suratno menceritakan pula, di dusun Dermo terdapat satu bangunan Belanda yang masih kuno. Pemiliknya bernama pendeta Isakar yang dibeli dari Tuan Bardo sebagai keturunan Belanda. Hingga saat ini bangunan masih terjaga dan ditempati anak keturunannya.
“Bangunan Belanda didirikan pada 1921 dan dibeli dari tuan Badro pada 1970, hingga kini masih ditempati keturunannya,” imbuh Suratno. (oci)

Berita Terkait

Baca Juga