Bank Century Lagi Hidup Mati | Berita Hari ini

Bank Century Lagi Hidup Mati

  • 2018-09-17 penulis : dahan iskan
  • Editor :husnun
  • dibaca :1373
Bank Century Lagi Hidup Mati

Dua jam bermobil dari San Fransisco.

Tahun 2015 Berthelsen pernah disomasi wanita Malaysia: Rosmah Mansor. Agar minta maaf. Dalam 28 jam.

Itu gara-gara Asia Sentinel menulis begini: Rosmah berusaha mengganti gubernur Bank Sentral Malaysia. Dengan pejabat baru dari kroni suaminya: Perdana Menteri Malaysia, Najib Razak. Berthelsel bergeming. Tidak mau minta maaf. Tentu saja.

Yang akan disomasi Partai Demokrat itu memang memojokkan. Judulnya sexy: Indonesia’s SBY Government: ‘Vast Criminal Conspiracy’. Penulisnya: John Berthelsen sendiri.

Judul itu tidak menuduh SBY pribadi. Melainkan pemerintahan SBY.  ‘Vast Criminal Conspiracy’-nya juga pakai tanda kutip.

Berthelsen wartawan kelas berat. Setelah di Sacramento Bee ia bekerja untuk koran terkemuka di dunia: Asian Wall Street Journal. Sebagai edisi Asia. Dari Wall Street Journal New York.

Berthelsen sangat idealis. Ia pernah jadi wartawan perang. Meliput perang Vietnam. Selama delapan tahun.
Ia mendirikan Asia Sentinel juga karena idealisme: koran-koran Barat kurang mau lagi mengcover Asia.

Koran Barat semakin menjadi  koran lokal. Itulah tuntutan masyarakat baru di sana. Juga di mana saja. Termasuk di Indonesia. Koran nasional hilang. Koran lokal terbilang.

Karena itu Wall Street Journal menutup edisi Asianya.
New York Times menutup Intermational Herald Tribunenya.
Majalah Asiaweek tutup juga. Kantor biro mereka di Asia dikecilkan. Atau dibubarkan.

Berthelsen bersama mantan wartawan-wartawan eks koran terkemuka itu mendirikan Asia Sentinel. Secara online.

Tentu harusnya tidak ada yang  berang. Membaca berita Bank Century itu. Di Asia Sentinel itu. Berita itu bersumber dari dokumen gugatan perdata.

Namanya gugatan. Bisa saja menguraikan apa saja. Dari versi penggugatnya.
Mungkin benar. Mungkin salah.
Pengadilanlah yang akan menentukannya.

Tapi sebelum menurunkan tulisan tersebut harusnya Asia Sentinel melakukan cross check. Ke yang terpojokkan di tulisan itu.

Asia Sentinel tentu sudah sadar: berita itu bersumber fakta tapi sepihak. Dari dokumen gugatan saja. Yang menggugat adalah satu perusahaan investasi. Di  republik Mauritius. Negeri surganya pajak. Siapa saja boleh bikin perusahaan di sana. Tanpa harus beroperasi di sana.

Nama penggugat itu: Weston International Capital Limited. Yang digugat banyak pihak. Terutama lembaga keuangan dari Jepang: JTrust. Yang punya anak perusahaan di Indonesia: Bank JTrus Indonesia.

Dalam dokumen gugatan itulah nama Indonesia terseret. Misalnya ada nama 30  pejabat. Yang dinilai melakukan konspirasi lewat Bank Century. Yang pejabat-pejabat itu umumnya dinilai sebagai tukang stempel saja. Ikut saja skenario konspirasi entah dari siapa.

Mengapa JTrust digugat?
JTrust adalah pemenang lelang.

Saat saham bank Mutiara dijual. Di tahun 2013. Bank Mutiara itu dulunya bernama Bank Century Tbk. Pemegang saham utamanya Robert Tantular.

Bank Century nyaris kolaps. Saat terjadi krisis global. Di tahun 2008.

Para nasabahnya tentu terancam kehilangan uang. Makanya Bank Century diselamatkan. Dengan dana dari LPS. Sebesar sekian triliun rupiah itu.

Bank Century selamat. Menjadi milik LPS. Atau pemerintah. Lima tahun kemudian namanya diganti: menjadi Bank Mutiara.

Gugatan itu menyebut, seperti ditulis John Berthelsen, salah satu nasabah Bank Century dulu adalah Partai Demokrat. Uang yang disimpan di situ, katanya, uang gelap. Tentu itu harus dibuktikan. Partai Demokrat sudah membantahnya.

Ditunggu saja apa kata pengadilan. Kalau pengadilan Mauritius mau menerima gugatan itu. Bisa juga tidak mau. Peristiwa ini terjadinya kan di Jakarta. Pengadilan di sana bisa menolak menyidangkannya.

Atau penggugat itu digugat saja. Biar buka-bukaan. Apa katanya nanti. Begitulah.

Perusahaan Mauritius itu berprinsip: Weston International Capitallah yang mestinya menang lelang.
Bukan JTrust.

Bahkan Weston menuduh JTrust kongkalingkong dengan berbagai bank internasional. Seperti Standard Chartered Inggris, UOB Singapura dan Nomura Jepang.

Penggugat juga menuduh JTrust ini: saat lelang dulu JTrust tidak menyebut sumber dananya dari mana.

Waktu itu JTrust menawar Bank Mutiara sebesar USD 898 juta dolar. Tanpa, kata penggugat, menyebut sumber dananya dari mana.

Padahal ini: dalam dokumen tender menyebutkan penawar wajib membuka diri: dari

Berita Terkait

Baca Juga