Cari Resep yang Mahal

  • 2018-09-17 penulis : dahan iskan
  • Editor :husnun
  • dibaca :1421
Cari Resep yang Mahal

Catatan Dahlan Iskan

Obat saya hilang. Di Amerika. Sebagian. Entah tercecer di mana. Padahal obat itu penyangga nyawa saya.
Memang, apa pun gampang hilang bersama saya: buku, jaket, topi, sepatu, bahkan jabatan.

Itu ada baiknya: bisa selalu belajar mengikhlaskan apa saja. Tidak mudah sakit hati. Tapi, dalam hal obat ini saya harus cari gantinya.

Saya coba ke Walmart: apa pun bisa dibeli di situ. Mulai meja, terigu, daging, benang sulam, tenda biru, sledri, chicken wing sampai komputer. (Saya coba beli daging bison. Ternyata gak ada. Saya coba beli benih alfalfa. Juga tidak ada).

Di counter apoteknya saya sodorkan sisa-sisa obat saya. Tiga macam. Biar dilihat. Apakah ada.

Ada: tapi saya tidak boleh beli. Harus dengan resep dokter. Saya rayu sampai dengan gombal sekali pun: tidak bisa.

Di manakah saya bisa cari dokter, eh resep dokter? Kota kecil di pedalaman Amerika ini benar-benar asing. Di New York lebih mudah. Ada dokter Amerika kelahiran Indonesia. Atau di Washington DC. Atau di Los Angeles. Gratis pula.

Paling minta foto bersama. Atau, yang di Los Angeles itu, saya harus mau tidur di rumahnya: yang seperti istana.

Tapi ini kota –kota ini– di tengah padang praire. Ke mana cari resep?

Petugas apotek itu akhirnya baik hati. Saya, katanya, bisa ke walk-in clinic. Di sebelah starbucks. Sekitar 1 mil jauhnya. Bisa minta resep di sana.

Ketemu. Klinik itu buka. Tapi  ternyata tidak bisa memberi resep. Jenis obat saya ini resepnya harus khusus. Harus dari dokter tertentu. Saya diberi alamat: First Clinic. Di tengah kota.

Nyetir mobil di tengah kota harus waspada. Biar pun jarang ada mobil lewat. Di  perempatan sering ada tanda ‘STOP’. Warna merah. Kita harus memberhentikan mobil. Sampai benar-benar berhenti. Baru boleh jalan lagi. Padahal tidak ada mobil sama sekali.

Kota ini sepi… Sepuluh menit lagi

Berita Terkait

Baca Juga