Cari Resep yang Mahal

  • 2018-09-17 penulis : dahan iskan
  • Editor :husnun
  • dibaca :1424
Cari Resep yang Mahal

pun belum tentu ada mobil lewat. Tapi harus patuh. Harus berhenti di tanda itu.

Sering juga ada tanda perubahan kecepatan. Kita harus waspada. Asyik-asyik nyetir dengan kecepatan 60 km/jam tiba-tiba harus jadi 30 km/jam: ada sekolah di pinggir jalan itu.

Akhirnya saya temukan klinik tersebut. Di sebelah dua gereja yang berseberangan –letaknya maupun alirannya.
Saya utarakan (catatan: siapa ya yang tahu sejarah lahirnya kata ‘utarakan’ ini? Kenapa tidak selatankan?) maksud saya: minta resep.

Saya disuruh isi formulir dulu. Tiga lembar. Data pribadi.

Banyak yang tidak bisa saya isi: pertanyaan-pertanyaan di sekitar asuransi. Saya tidak punya asuransi di Amerika ini. Padahal maksud saya sederhana saja: beri saya resep, lalu berapa biayanya, saya bayar sendiri.

Tapi tidak bisa begitu. Harus ikut prosedur.

Ya…sudah. Ikut prosedur. Saya serahkan kembali formulir itu. Yang banyak tidak terisi jawaban itu. Ternyata tidak dipermasalahkan. Bahkan tidak dilihat.

Lantas saya diminta foto. Foto? Apa hubungannya dengan resep? Saya kan bukan ingin bikin SIM? Yaaa… sudahlah. ikut prosedur.

Di mana fotonya? Di situ juga. Ternyata ada kamera di atas komputer itu. Saya buka topi. ”Terima kasih mau membuka topi,” katanya.

Selesai. Saya pikir segera dibuatkan resep. Ternyata belum. Saya masih ditanya: apakah mau dibikinkan janji ketemu dokternya? Oh… ma…ma…mauu!

Lho… kan harus mau. Saya kan sudah ditarik bayaran: 108 dolar. Sekitar Rp 1,4 juta. Saya pun diberi secuil kertas.

Saya lihat jam di memo kecil darinya itu: masih dua jam lagi. Saya bisa muter-muter 10 kali di kota ini. Saking kecilnya.

Waktu dua jam itu saya manfaatkan untuk ke desa sebelah. Ada museum kecil di situ: rumah masa kecilnya Chrysler. Tokoh permobilan Amerika. Yang namanya dipakai merk mobilnya.

Saya pun balik ke klinik tepat waktu. Diminta isi formulir lagi. Dua halaman.

Banyak sekali pertanyaan yang harus saya isi: pernah punya ashma? Ada batuk-batuk? Sulit kencing? Suka ngorok? Dan seterusnya.

Mudah mengisinya: tinggal mencontreng semua kolom ‘No’. Banyak sekali jumlahnya.

Halaman duanya tidak saya baca lagi. Langsung saja saya contreng semua ‘No’ nya.
Isian formulir ini juga tidak dia baca.

Saya diminta membawanya ke lantai atas: ke ruang tunggu dokter.

Ada 20-an kursi di situ. Tiga terisi. Ruang tunggu yang nyaman. Ada TV. Ada layar video on demand. Ada lukisan-lukisan praire. Ada seni instalasi. Ada jam dinding raksasa. Ada mainan anak-anak.

Seorang suster memanggil: ”Dalan… ”
Saya sudah hafal. Orang barat sulit memanggil Dahlan dengan benar. Orang Tiongkok apalagi. Ayah saya sendiri pun sulit. Memanggil anaknya itu: Dakelan.

Dipanggil Dalan begitu saya berdiri. Menyerahkan isian formulir. Lalu mengiringinya ke satu koridor: disuruh timbang badan. Diukur tinggi badan.

Berat badan saya entah berapa. Hitungannya dalam pound. Tinggi badan saya juga entah berapa. Hitungannya dalam inci.

Tapi saya percaya.  Biar pun dihitung dengan inci badan saya tidak akan lebih tinggi. Angkanya saja yang lebih banyak.

Lalu masuklah ke ruang pemeriksaan. Ada tempat tidur pasien beralas kertas. Saya hanya diminta duduk di situ. Diukur tekanan darah.

Dimasukkan satu paku ke mulut saya: pengukur suhu badan. Ditanya apakah alergi terhadap obat.

Petugas itu keluar. Menutup pintu di depan saya. Masuklah dokter: wanita. Matanya biru. Rambutnya blonde. Celananya jeans. Muda. Tapi tidak setinggi umumnya orang bule.

”Saya minta dibikinkan resep,” kata saya. Untuk tiga jenis obat itu. Untuk keperluan satu bulan. Dia pun membuatkannya: selesai.

Bentuk resepnya print-out. Yang lebarnya satu folio. Satu jenis obat satu print-out.

Jadi, ada tiga lembar resep: boros banget. Hematan dokter Indonesia. Tujuh obat sekali pun ditulis dalam satu resep –kertas kecil yang tulisannya sulit dibaca itu.

Saya bawa resep itu ke Walmart. Saya jejer-jejer dulu di atas kursi. Saya foto. Kapok dia. Biar tiga lembar memfotonya jadi satu.

Berita Terkait

Baca Juga