Cari Resep yang Mahal

  • 2018-09-17 penulis : dahan iskan
  • Editor :husnun
  • dibaca :1400
Cari Resep yang Mahal

Sulit kencing? Suka ngorok? Dan seterusnya.

Mudah mengisinya: tinggal mencontreng semua kolom ‘No’. Banyak sekali jumlahnya.

Halaman duanya tidak saya baca lagi. Langsung saja saya contreng semua ‘No’ nya.
Isian formulir ini juga tidak dia baca.

Saya diminta membawanya ke lantai atas: ke ruang tunggu dokter.

Ada 20-an kursi di situ. Tiga terisi. Ruang tunggu yang nyaman. Ada TV. Ada layar video on demand. Ada lukisan-lukisan praire. Ada seni instalasi. Ada jam dinding raksasa. Ada mainan anak-anak.

Seorang suster memanggil: ”Dalan… ”
Saya sudah hafal. Orang barat sulit memanggil Dahlan dengan benar. Orang Tiongkok apalagi. Ayah saya sendiri pun sulit. Memanggil anaknya itu: Dakelan.

Dipanggil Dalan begitu saya berdiri. Menyerahkan isian formulir. Lalu mengiringinya ke satu koridor: disuruh timbang badan. Diukur tinggi badan.

Berat badan saya entah berapa. Hitungannya dalam pound. Tinggi badan saya juga entah berapa. Hitungannya dalam inci.

Tapi saya percaya.  Biar pun dihitung dengan inci badan saya tidak akan lebih tinggi. Angkanya saja yang lebih banyak.

Lalu masuklah ke ruang pemeriksaan. Ada tempat tidur pasien beralas kertas. Saya hanya diminta duduk di situ. Diukur tekanan darah.

Dimasukkan satu paku ke mulut saya: pengukur suhu badan. Ditanya apakah alergi terhadap obat.

Petugas itu keluar. Menutup pintu di depan saya. Masuklah dokter: wanita. Matanya biru. Rambutnya blonde. Celananya jeans. Muda. Tapi tidak setinggi umumnya orang bule.

”Saya minta dibikinkan resep,” kata saya. Untuk tiga jenis obat itu. Untuk keperluan satu bulan. Dia pun membuatkannya: selesai.

Bentuk resepnya print-out. Yang lebarnya satu folio. Satu jenis obat satu print-out.

Jadi, ada tiga lembar resep: boros banget. Hematan dokter Indonesia. Tujuh obat sekali pun ditulis dalam satu resep –kertas kecil yang tulisannya sulit dibaca itu.

Saya bawa resep itu ke Walmart. Saya jejer-jejer dulu di atas kursi. Saya foto. Kapok dia. Biar tiga lembar memfotonya jadi satu. Hemat.

Ternyata hanya ada dua jenis obat yang tersedia di apotik Walmart. Dua-duanya yang terkait dengan aorta dissection saya itu. Yang satu lagi, yang kaitannya dengan transplant hati: kosong. Tidak ada stok.

Saya pun membayar untuk yang ada itu. Beres. Siap pulang.

Lalu saya dipanggil lagi. Ditanya: apakah untuk yang satu lagi itu saya mau menunggu satu hari. Akan didatangkan dari kota besar.  Harganya (30 tablet): 680 dolar. Atau sekitar Rp 8 juta.

Itulah harga obat jenis entecavir. Yang juga harus saya minum seumur hidup. Untuk merawat hati saya.

Itu bukan obat yang untuk mensinkronkan hati dan badan itu. Itu lain lagi namanya. Lain pula harganya. Saya masih punya cadangannya.

Begitu mahal obat untuk lever itu. Itulah sebabnya enam tahun lalu saya minta ini: Kimia Farma harus bisa memproduksi entecavir yang harganya terjangkau.

Mumpung saya punya jabatan saat itu.

Terlalu banyak penderita liver di Indonesia. Tidak mungkin mampu membeli obat Rp 8 juta sebulan.

Alhamdulillah. Kimia Farma berhasil. Nama obatnya: Heplav. Harganya: Rp 200 ribu/30 butir.

Lesson learned: kalau ke Amerika bawalah obat yang cukup. Resepnya saja Rp 1,4 juta. Belum mondar-mandirnya. Seandainya sewa mobil: dua juta sendiri lagi.

Jangan bodoh seperti saya. Yang mudah kehilangan apa saja. (dihlan iskan/disway)

Berita Terkait

Baca Juga