Mantan Dirut Pertamina Karen Agustiawan Ditahan Kejagung

  • 2018-09-24
  • Editor :husnun
  • dibaca :858
Mantan Dirut Pertamina Karen Agustiawan Ditahan Kejagung Mantan Direktur Utama Pertamina Karen Agustiawan.(dok.reuters)

JAKARTA-Kejaksaan Agung (Kejagung) menahan mantan Direktur Utama Pertamina Karen Agustiawan. Karen ditahan setelah menjalani pemeriksaan dalam perkara dugaan tindak pidana korupsi investasi perusahaan di Blok Baster Manta Gummy (BMG) Australia tahun 2009.

Jaksa Agung Muda Pidana Khusus (Jampidsus) Kejagung Adi Toegarisman mengatakan penahanan Karen dilakukan setelah penyidik melakukan serangkaian proses pemeriksaan. Penyidik berpendapat bahwa perlu untuk dilakukan penahanan agar perkara dapat selesai dengan cepat.

"Selama proses pemeriksaan, penyidik berpendapat diperlukan tindakan paksa yaitu penahanan. Maksud tujuan karena sudah memenuhi syarat objektivitas dan subjektivitas dan agar perkara cepat selesai," kata Adi kepada media, Senin (24/9).

Selanjutnya, katanya, Karen akan menjalani masa penahanan selama 20 hari ke depan di Rumah Tahanan (Rutan) Pondok Bambu, Jakarta Timur.

Karen telah ditetapkan sebagai tersangka oleh tim penyidik Kejaksaan Agung sejak 22 Maret 2018. Namun sejak saat itu, Karen belum pernah diperiksa sebagai tersangka oleh tim penyidik.

Selain Karen, dalam kasus ini penyidik juga telah menetapkan Chief Legal Councel and Compliance PT Pertamina, Genades Panjaitan dan Direktur Keuangan Pertamina, Frederik Siahaan. Karen bersama dua tersangka itu juga sudah dicegah bepergian ke luar negeri sejak 22 Maret 2018.

Sementara itu, mantan Manager Merger dan Investasi (MNA) pada Direktorat Hulu PT Pertamina Bayu Kristanto sudah lebih dulu ditetapkan sebagai tersangka dan langsung ditahan selama 20 hari oleh tim penyidik.

Kasus ini bermula saat Pertamina melalui anak perusahaannya, PT Pertamina Hulu Energi (PHE) melakukan akuisisi saham sebesar 10 persen terhadap ROC Oil Ltd, untuk menggarap Blok BMG.

Perjanjian dengan ROC Oil atau Agreement for Sale and Purchase - BMG Project diteken pada 27 Mei 2009. Nilai transaksinya mencapai USD31 juta.

Akibat akuisisi itu, Pertamina harus menanggung biaya-biaya yang timbul lainnya (cash call) dari Blok BMG sebesar USD26 juta. Melalui dana yang sudah dikeluarkan setara Rp568 miliar itu, Pertamina

Berita Terkait

Baca Juga