Ketika kaum milenial 'dipaksa orang tua' ikut pendaftaran CPNS

  • 2018-10-17
  • Editor :goly
  • dibaca :668
Ketika kaum milenial 'dipaksa orang tua' ikut pendaftaran CPNS ilustrasi Pendaftaran CPNS

Menjadi pegawai negeri sipil (PNS) sepertinya bukan ide yang menarik bagi sebagian kaum milenial. Tetapi ketika pendaftara calon PNS ternyata dijejali ratusan ribu milenial.


Muhammad Khamzah Syawal, sebetulnya enggan jadi pegawai negeri tapi tetap ikut mendaftar CPNS tahun 2018, Sebagai anak, dia merasa punya kewajiban menyenangkan orang tuanya dengan cara memenuhi permintaan mereka.
"Mungkin pemikiran orang tua mengenai 'pekerjaan yang layak' tidak jauh-jauh dari PNS, sehingga orang tua meminta saya untuk tes," kata salah seorang pendaftar CPNS.


Muhammad sejatinya ingin berkarier di dunia pendidikan tinggi. Untuk itu, dia sebenarnya berharap untuk melanjutkan kuliah. Solusinya, sembari tes, dia juga mencari peluang lain yang bisa mewujudkan keinginannya.
"Saya juga tetap berusaha mendapatkan beasiswa untuk melanjutkan studi," kata pria berusia 25 tahun ini.


Liza Aurora, 25 tahun, juga mengikuti seleksi CPNS karena orangtuanya berharap dia bisa jadi PNS. "Saya disuruh orang tua karena beliau berpikir berkarier sebagai PNS lebih baik untuk perempuan karena punya penghasilan tetap, jenjang karier yang lebih aman dan punya jaminan untuk hari tua," kata Liza yang sebenarnya ingin berwiraswasta.
Dia pun mendaftar dengan setengah hati. Tapi ketika mengetahui bahwa syarat mendaftar sebagai CPNS tidak rumit dan informasinya jelas, Liza pun "tidak menyesal".


Menurut data Badan Kepegawaian Negara, total ada 3,47 juta orang yang mendaftar sebagai calon PNS tahun 2018. Pada hari terakhir penutupan, Senin (15/10), ada sekitar 250.000 orang menyelesaikan pendaftaran mereka.
Jutaan orang akan bersaing demi mendapatkan 238.015 posisi di berbagai lembaga negara, kementerian maupun pemerintah daerah dan pusat. Syarat mendaftar PNS adalah berusia 18-35 tahun.

 

Dianggap pekerjaan paling aman
Yustika Noor Arifa, career coach yang belajar master di bidang Career Development and Coaching Studies dan kandidat doktor di Universitas Vrije di Amsterdam, Belanda, menjelaskan bahwa generasi yang lebih

Berita Terkait

Baca Juga